KONTAN.CO.ID - Bitcoin masih menjadi aset kripto terbesar di dunia. Namun, posisi tersebut tidak lagi menjamin bahwa bitcoin akan menjadi tujuan utama dana investasi global seperti beberapa tahun lalu.
Di tengah ledakan investasi bertema kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), investor institusi mulai mengalihkan perhatian ke saham teknologi, produsen semikonduktor, hingga perusahaan-perusahaan besar yang bersiap melantai di bursa saham.
Data Reuters menunjukkan 2026 menjadi salah satu periode terberat bagi bitcoin dalam satu dekade terakhir. Harga aset kripto tersebut terkoreksi tajam dari rekor tertingginya, sementara arus dana justru mengalir deras ke sektor AI dan teknologi.
Baca Juga: Mengapa Investor China Tak Bisa Mengakses Dokumen IPO SpaceX?
Bitcoin Kehilangan Momentum
Pada akhir 2025, bitcoin sempat mencatatkan sejarah dengan menembus level US$ 125.000 per koin.
Kenaikan tersebut didorong optimisme investor terhadap masa depan industri kripto, termasuk harapan akan kebijakan yang lebih ramah terhadap aset digital di Amerika Serikat.
Sayangnya, reli itu tidak bertahan lama. Memasuki 2026, bitcoin mulai kehilangan tenaga dan bergerak turun hingga kembali diperdagangkan di kisaran US$ 63.000.
Dengan demikian, nilainya telah terpangkas hampir 50% dibandingkan posisi tertinggi yang dicapai beberapa bulan sebelumnya.
Baca Juga: Sebelum IPO Anthropic, Investor Perlu Tahu Hubungannya dengan Pemerintah AS
Booming AI Mengubah Arah Arus Modal Global
Salah satu perubahan terbesar yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir adalah munculnya AI sebagai tema investasi utama di pasar global.
Sejak popularitas ChatGPT meledak pada akhir 2022, investor berbondong-bondong memburu saham perusahaan yang terkait dengan pengembangan AI.
Hasilnya, bitcoin kini tidak hanya bersaing dengan aset kripto lain, tetapi juga dengan sektor teknologi yang sedang menikmati euforia pertumbuhan.
Arus Dana Investor pada 2026
| Instrumen Investasi | Arus Dana |
|---|---|
| ETF Bitcoin | Keluar US$ 3,1 miliar |
| Empat ETF semikonduktor terbesar AS | Masuk US$ 21 miliar |
| ETF semikonduktor (awal Juni 2026) | Masuk lebih dari US$ 3 miliar |
Tabel tersebut menggambarkan perubahan preferensi investor institusi. Ketika ETF bitcoin mengalami arus keluar (outflow), produk investasi yang berfokus pada industri semikonduktor justru menikmati aliran dana yang jauh lebih besar.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa investor global saat ini melihat peluang pertumbuhan AI lebih menarik dibandingkan aset kripto.
Baca Juga: Booming IPO India, Raksasa Asing Justru Tarik Dana Miliaran Dolar
Bitcoin Tidak Lagi Mendominasi Industri Kripto
Di dalam ekosistem aset digital, posisi bitcoin juga mulai menghadapi persaingan dari stablecoin yang pertumbuhannya semakin pesat.
Stablecoin merupakan aset kripto yang nilainya dipatok terhadap mata uang fiat seperti dolar AS sehingga relatif lebih stabil dibandingkan bitcoin.
Peran stablecoin semakin penting karena banyak digunakan sebagai sarana transaksi, perdagangan aset digital, hingga transfer dana lintas negara.
Bahkan sejumlah lembaga keuangan memperkirakan pasar stablecoin masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar hingga akhir dekade ini.
Proyeksi Nilai Pasar Stablecoin hingga 2030
| Tahun | Nilai Pasar |
|---|---|
| 2020 | US$ 28 miliar |
| 2021 | US$ 167 miliar |
| 2022 | US$ 138 miliar |
| 2023 | US$ 130 miliar |
| 2024 | US$ 204 miliar |
| 2025 | US$ 282 miliar |
| 2030 (Bear Case) | US$ 883 miliar |
| 2030 (Base Case) | US$ 1,868 triliun |
| 2030 (Bull Case) | US$ 3,987 triliun |
Tabel data gabungan dari Citi Institute, Federal Reserve Bank, Bank of England, European Central Bank, dan People's Bank of China tersebut menunjukkan bahwa Stablecoin berpotensi menjadi salah satu segmen dengan perkembangan tercepat seiring meningkatnya penggunaan aset digital dalam sistem keuangan global.
Karena itu, calon investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada potensi kenaikan harga bitcoin semata.
Memahami perubahan arus modal global, tren investasi baru, serta dinamika industri kripto menjadi hal yang sama pentingnya sebelum mengambil keputusan investasi.
Baca Juga: Wall Street Cetak Rekor, Analis Peringatkan Risiko Koreksi Tajam
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News