KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Indonesia sepanjang pekan ketiga Mei 2026 mengalami tekanan hebat. Berikut review singkatnya.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil rebound dan ditutup di zona hijau pada perdagangan Jumat (22/5/2026), setelah sebelumnya mengalami tekanan cukup dalam sepanjang pekan ini.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menguat 67,10 poin atau 1,10% ke level 6.162,04 pada penutupan perdagangan. Sebanyak 449 saham tercatat naik, 251 saham melemah, dan 118 saham stagnan.
Meski demikian, secara mingguan IHSG masih mencatatkan pelemahan sebesar 8,35%.
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut sektor basic materials menjadi penopang utama penguatan IHSG dengan kenaikan mencapai 6,85%. Sebaliknya, sektor financials menjadi satu-satunya sektor yang terkoreksi paling dalam, yakni turun 0,28%.
“Nilai transaksi perdagangan hari ini mencapai Rp 17,90 triliun dan dalam sepekan IHSG masih mengalami pelemahan sebesar 8,3%,” tulis Tim Pilarmas dalam risetnya, Jumat (22/5).
Baca Juga: CPIN Tebar Dividen Rp180 per Saham: Periksa Profil Emiten dan Kinerjanya
Penguatan IHSG turut ditopang kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar, khususnya di sektor energi dan pertambangan. Saham-saham yang mendominasi penguatan indeks LQ45 antara lain PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).
Sementara itu, saham yang paling membebani indeks di antaranya PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Astra International Tbk (ASII), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).
Untuk perdagangan hari ini, saham dengan kenaikan terbesar di antaranya DFAM, CTBN, PBSA, TALF, dan MDKA. Sedangkan saham yang mengalami penurunan terdalam meliputi PGLI, ASPR, BOBA, LCKM, dan APIC.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mengatakan hampir seluruh sektor ditutup menguat pada akhir perdagangan, kecuali sektor finansial yang masih tertekan 0,38%.
Tonton: DSI Optimalkan Ekspor SDA US$ 60 Miliar, Sumbang Devisa US$ 3 Miliar Per Tahun
Menurut Alrich, penguatan sektor energi dan basic materials masing-masing sebesar 6,85% dan 4,84% dipicu sentimen pasar terkait rumor penundaan implementasi penuh kebijakan ekspor batubara dan komoditas strategis yang dikendalikan negara hingga 1 Januari 2027.
“Penundaan ini dinilai memberikan masa transisi lebih panjang bagi eksportir dan pembeli internasional untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan kebijakan tersebut,” ujar Alrich kepada Kontan, Jumat (22/5).
Sentimen tersebut mendorong optimisme investor terhadap saham-saham berbasis komoditas, khususnya batubara dan mineral, sehingga menopang rebound IHSG di akhir pekan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News