Emiten

Ini kata analis soal efek program WFB bagi kinerja emiten pariwisata

Kamis, 10 Juni 2021 | 07:30 WIB   Reporter: Ika Puspitasari
Ini kata analis soal efek program WFB bagi kinerja emiten pariwisata

Lebih lanjut ia mengaku sejauh ini tingkat okupansi hotel DFAM masih belum baik dan hanya mengalami sedikit kenaikan. Ia mengaku rata-rata tingkat okupansi hotel di Bali masih single digit, pergerakan tersebut lamban karena kebanyakan pasar mereka adalah wisatawan mancanegara.

Emiten hotel PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) juga memandang program Work From Bali belum mampu untuk mengerek okupansi hotelnya yang berlokasi di Bali.

Sekretaris Perusahaan BUVA, Benita Sofia menyatakan, hal tersebut kurang berdampak pada tingkat okupansi hotel BUVA karena penerapan program tersebut baru di daerah Nusa Dua dimana tidak ada hotel Buva disana.

Baca Juga: Pacu penjualan ke sektor swasta, Kabelindo Murni (KBLM) yakin bisa kantongi laba

"Apabila ada dampak, kemungkinan hanya kepada divisi F&B kami, yaitu apabila peserta WFB makan di luar hotel mereka," ujarnya, Rabu (9/6).

Sebagai informasi, Bukit Uluwatu Villa saat ini mengelola tiga resor bintang lima di Bali yang terdiri dari Alila Villas Uluwatu, Alila Ubud, dan Alila Manggis.

Sofia menuturkan, pihaknya masih sangat menantikan dibukanya Bali bagi penerbangan internasional dengan selektif. Sekarang ini, okupansi hotel BUVA yang berada di Bali masih rendah. "Okupansi di kuartal pertama dan kuartal kedua hampir sama tidak ada pertumbuhan yang signifikan. Rata-rata occupancy di bawah 10%," katanya.

Selanjutnya: Dana Brata Luhur (TEBE) membuka peluang kerek target volume barging

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Tendi Mahadi
Terbaru