Laba Bersih 2025 Naik 50%, Harga Saham Receh Ini Terbang Tinggi Hingga ARA

Sabtu, 28 Februari 2026 | 04:05 WIB
Laba Bersih 2025 Naik 50%, Harga Saham Receh Ini Terbang Tinggi Hingga ARA


Reporter: Leni Wandira  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melambung setelah menjadi buruan investor. Hal ini menyusut kinerja bagus perusahaan grup Bakrie ini yang memperoleh keuntungan jumbo untuk pertama kali dalam beberapa tahun terakhir.

Harga saham BNBR pada akhir perdagangan Jumat 27 Februari 2026 ditutup di level 214 naik 53 poin atau 32,92% dibandingkan sehari sebelumnya. Kenaikan ini mencapai batas tertinggi hingga terkena auto rejection atas (ARA).

Sejak awal tahun, harga saham BNBR terakumulasi meningkat 75 poin atau 53,96%. Kenaikan harga saham ini terjadi setelah manajemen mengumumkan hasil kinerja tahun 2025 yang ciamik.

BNBR membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 3,74 triliun sepanjang 2025, turun 3,28% secara tahunan (yoy). Meski begitu, BNBR berhasil mencatatkan lonjakan laba bersih 49,6% menjadi Rp 502,74 miliar dibandingkan Rp 336,04 miliar pada tahun sebelumnya.

Baca Juga: Investor Waspada! Tekanan Saham Blue Chip Berlanjut di 2026, Tapi Saham Ini Tidak!

Direktur Keuangan PT Bakrie & Brothers Tbk Roy Hendrajanto M. Sakti menyampaikan capaian tersebut diraih di tengah tekanan ekonomi global. 

Kami bersyukur di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, Perseroan mampu mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun 2025,” ujarnya usai RUPSLB di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Kontributor pendapatan BNBR berasal dari tiga lini utama, yakni PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group sebesar Rp 2,18 triliun, VKTR Teknologi Mobilitas Group sebesar Rp 1,08 triliun, serta PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) Group sebesar Rp 464,21 miliar.

Pada lini mobilitas listrik, VKTR mencatatkan pendapatan sekitar Rp 1,08 triliun–Rp 1,1 triliun pada 2025, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh implementasi bus listrik, kendaraan niaga listrik, serta kontribusi bisnis komponen otomotif. 

VKTR juga dinilai relatif tahan terhadap perlambatan pasar otomotif nasional karena fokus pada kendaraan komersial yang ditopang sektor logistik, infrastruktur, dan industri.

Di segmen infrastruktur, BIIN Group membukukan pendapatan Rp 464,21 miliar atau tumbuh 41,6% dibandingkan 2024. Kenaikan ini berasal dari kontribusi PT Multi Kontrol Nusantara (MKN) Group, PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT), PT Helio Synar Energy, serta portofolio jaringan pipanisasi minyak dan gas.

Tonton: Alfamart Respons Wacana Pembatasan: Tetap Ekspansi Selama Diizinkan

Sementara itu, anak usaha di industri pipa baja, PT Bakrie Pipe Industries (BPI), mencatatkan pendapatan Rp 1,76 triliun, turun 22,8% dari Rp 2,29 triliun pada 2024. Namun, PT Southeast Asia Pipe Industries (SEAPI) justru membukukan pertumbuhan pendapatan 28,1% menjadi Rp 194,54 miliar.

Baca Juga: Tren Bearish Kripto Berlanjut, Ini Sektor Altcoin yang Potensi Pimpin Reli 

Pada lini konstruksi dan EPC, PT Bakrie Construction (BCons) membukukan pendapatan Rp171,58 miliar, melonjak 330% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp39,9 miliar, seiring peningkatan proyek yang dijalankan.

Sejalan dengan kinerja tersebut, pemegang saham BNBR juga menyetujui rencana Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Direktur Utama & CEO BNBR Anindya N. Bakrie mengatakan langkah ini diperlukan untuk memperkuat struktur pendanaan.

“Perseroan menilai perlu untuk melaksanakan PMHMETD dalam rangka optimalisasi struktur pendanaan terkait Pengambilalihan PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT),” kata Anindya.

Melalui aksi korporasi tersebut, BNBR akan menerbitkan hingga 90 miliar saham baru seri E. Dana hasil PMHMETD akan digunakan untuk pembayaran kewajiban kepada kreditur, modal kerja, serta pengembangan usaha Perseroan dan anak usaha, termasuk CCT.

Dengan portofolio infrastruktur strategis dan ekspansi pada sektor mobilitas listrik, manajemen menilai prospek pendapatan BNBR ke depan tetap terbuka, seiring penguatan struktur permodalan dan peluang pertumbuhan pada sektor industri masa depan.

 

Tekanan Fiskal Jadi Sorotan, S&P Ingatkan Risiko Peringkat Utang Indonesia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru