Menakar Prospek Buyback Saham saat IHSG Masih Betah di Zona Merah

Kamis, 12 Mei 2022 | 20:43 WIB   Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
Menakar Prospek Buyback Saham saat IHSG Masih Betah di Zona Merah

ILUSTRASI. Aksi korporasi berupa pembelian kembali (buyback) saham ramai sejak awal tahun ini.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi korporasi berupa pembelian kembali (buyback) saham ramai sejak awal tahun ini. Perkembangan kondisi sekarang saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih betah parkir di zona merah dinilai menjadi momentum tepat untuk merancang atau melanjutkan aksi buyback.

Adapun IHSG sudah terperosok ke level 6.599,84 setelah ditutup melemah 216,36 poin atau anjlok 3,17% pada perdagangan Kamis (12/5) ini. Paska libur panjang Idul Fitri, IHSG selalu ditutup memerah dalam empat hari berturut-turut di pekan ini.

Analis Fundamental B-Trade Raditya Krisna Pradana melihat bahwa koreksi pada IHSG yang membuat harga saham sejumlah emiten terdiskon menjadi salah satu penyebab yang mendorong perusahaan melakukan buyback saham. Dengan begitu, para emiten tersebut mampu melakukan pembelian di harga bawah atau minimal tidak membeli saat harga premium.

Baca Juga: Asing Net Sell di Pasar Obligasi, Net Buy di Pasar Saham Indonesia

"IHSG yang sedang terkoreksi menjadi momen yang tepat untuk melakukan buyback saham. Kami mengamati, mayoritas emiten melakukan buyback di saat pasar atau IHSG sedang mengalami koreksi," kata Raditya kepada Kontan.co.id, Kamis (12/5).

Sekadar mengingat, sejak awal tahun 2022, setidaknya ada 16 emiten yang merancang dan melanjutkan aksi buyback saham. Mereka adalah PT Jaya Real Property Tbk (JRPT), PT Provident Agro Tbk (PALM), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Royal Prima Tbk (PRIM), dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL).

Kemudian ada PT Kino Indonesia Tbk (KINO), PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk (AMAG), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP).

Selanjutnya ada PT Matahari Department Store Tbk (LPPF), PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) dan PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR).

Baca Juga: IHSG Masih Rawan Koreksi, Berikut Saham-Saham yang Bisa Dicermati

Senior Technical Analyst Henan Putihrai Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengungkapkan bahwa emiten akan menggelar aksi buyback ketika mereka melihat harga saham jatuh di bawah harga wajar. Aksi korporasi ini bisa dilihat sebagai akumulasi pada saat harga murah, kemudian menjualnya kembali ketika pasar sudah pulih.

Di sisi lain, langkah ini juga bisa jadi merupakan strategi untuk menyelamatkan earning per share (EPS) secara keseluruhan ketika tengah mengalami penurunan. Jumlah saham beredar berkurang dengan aksi buyback tersebut. "Maka ujung-ujungnya angka laba per saham relatif tidak terlihat terlalu timpang dengan periode sebelumnya," kata Liza.

Menurut Liza, aksi korporasi ini tidak serta merta bisa mendongkrak harga saham. Kenaikan harga akan sejalan dengan masa market recovery dan perbaikan performa perusahaan sehingga harga saham akan bisa kembali meningkat ke harga wajar atau premium. 

"Aksi buyback secara logika dilakukan ketika harga saham sedang murah-murahnya. Sehingga tidak serta merta diharapkan bisa mengerek harga naik. Juga banyak regulasi seputar pelaksanaan corporate action ini seperti berapa persen saham yang boleh di-buyback di pasar," terang Liza.

Editor: Wahyu T.Rahmawati

Terbaru