Mencari Saham-Saham yang Patut Dilirik di Tengah Tekanan Aksi Jual Asing

Minggu, 26 Juni 2022 | 23:11 WIB   Reporter: Yuliana Hema
Mencari Saham-Saham yang Patut Dilirik di Tengah Tekanan Aksi Jual Asing

ILUSTRASI. Seorang pria melintasi layar digital pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/6/2022).


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,64% ke posisi 7.042,9, tapi investor asing tercatat melakukan tekanan jual. Namun, beberapa saham big caps yang dijual asing ini patut dilirik.

Dari data Bursa Efek Indonesia, investor asing mencatatkan beli bersih senilai Rp 28,12 triliun dan net sell asing mencapai Rp 32,30 triliun. Dus, investor asing cenderung melakukan jual bersih senilai Rp 4,18 triliun.

Mengutip RTI, investor asing mencatat net sell terbesar pada saham PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) sebesar Rp 2,3 triliun dalam sepekan ini. Disusul saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan net sell Rp 659,33 miliar.

Aksi jual bersih jumbo PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang masing-masing senilai Rp 328,19 miliar, Rp 212,24 miliar dan Rp 188,84 miliar.

Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto mencermati, capital outflow masih berpotensi belum akan berakhir. Hal ini dipicu dari pertanyaan The Fed soal kenaikan suku bunga yang belum akan berakhir untuk memerangi inflasi.

Dengan begitu, Pandhu memperkirakan masih akan ada peluang buy on weakness hingga beberapa bulan ke depan. Dia bilang investor bisa memilih saham big caps seperti BBRI dan TLKM yang secara fundamental cukup kuat.

"Secara siklus juga biasanya kisaran Oktober sudah tidak terlalu banyak gejolak, sehingga bisa relatif tenang untuk mengoleksi saham big caps menjelang akhir tahun nanti," kata Pandhu kepada Kontan, Minggu (26/6).

Sementara, Equity Analyst Kanaka Hita Solvera William Wibowo menyebut, saham BBRI dan TLKM masih bisa diperhatikan oleh pelaku pasar untuk melancarkan aksi buy on weakness secara bertahap.

“Namun tetap perlu diperhatikan perkembangan situasi ekonomi kedepannya mengingat ketidakstabilan ekonomi global yang masih ada,” tegas dia.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto

Terbaru