Mengukur Valuasi IHSG Sebagai Emerging Market, Murah atau Mahal?

Kamis, 17 November 2022 | 20:37 WIB   Reporter: Yuliana Hema
Mengukur Valuasi IHSG Sebagai Emerging Market, Murah atau Mahal?

ILUSTRASI. PE IHSG sebesar 13,9 kali sudah berada pada premi 24% di atas rata-rata emerging markets.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Valuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai tidak terlalu murah maupun terlalu mahal, Apalagi kalau dibandingkan secara historis maupun dengan emerging markets lainnya.  

Analis CGS-CIMB Sekuritas Hadi Soegiarto dan Peter Sutedja memaparkan forward headline price to earning (PE) IHSG untuk 12 bulan mencapai 15,1 kali. Nilai ini masih berada di bawah rata-rata historis 14,9 kali. 

Jika menghilangkan sektor bank digital dan teknologi yang memberatkan pasar saham Indonesia, valuasi IHSG akan turun menjadi 13,9 kali. Artinya masih di bawah rata-rata historis. 

"Sebenarnya di bawah rata-rata historis 14,9 kali, yang tampaknya telah memperkirakan pertumbuhan earning per share (EPS) di akhir 2023 yang lambat sampai batas tertentu," papar riset CGS-CIMB yang dipublikasikan Rabu (16/11).

Baca Juga: IHSG Berpotensi Menguat Jumat (18/11), Intip Rekomendasi Saham Berikut

Kalau dibandingkan dengan pasar lainnya, PE IHSG sebesar 13,9 kali sudah berada pada premi 24% di atas rata-rata emerging markets. Walaupun EPS Indonesia melambat, nilai ini sedikit di bawah rata-rata historis 27%. 

CGS-CIMB Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan EPS Indonesia yang mencapai 4% secara tahunan akan mengikuti rata-rata emerging market lainnya sebesar 13% pada 2023 mendatang. 

Lebih lanjut, Hadi dan Peter menilai saham dengan pertumbuhan pendapatan yang tinggi akan unggul. Hal itu sejalan dengan saham dengan kapitalisasi pasar jumbo. 

Baca Juga: Ada 42 Emiten di Pipeline Rights Issue BEI, Estimasi Dana Capai Rp 39,4 Triliun

Oleh karena itu, CGS-CIMB Sekuritas menjagokan saham perbankan dengan kapitalisasi jumbo seperti BBNI, BMRI, BBRI, dan BBCA untuk 2023 mendatang. Dari sektor konsumer ada saham KLBF

Kemudian untuk sektor telekomunikasi dari kelas menengah CGS-CIMB Sekuritas memilih EXCL. Ini menimbang pertumbuhan pendapatan XL Axiata yang kuat dan dinamika sektor halo-halo ini. 

"Dari sektor semen SMGR dan INTP dengan valuasi yang lebih menarik dan keuntungan yang cukup besar setelah harga batubara kembali moderat," pungkas dia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati

Terbaru