Penguatan Daya Beli, Penurunan Harga Gandum, dan CPO Pendorong Sektor Consumer Goods

Kamis, 07 Juli 2022 | 23:43 WIB   Reporter: Sugeng Adji Soenarso
Penguatan Daya Beli, Penurunan Harga Gandum, dan CPO Pendorong Sektor Consumer Goods

ILUSTRASI. Seorang petani merawat gandum di sebuah lahan di provinsi El-Kalubia, timur laut Kairo, Mesir, Selasa (1/3/2022). REUTERS/Mohamed Abd El Ghany


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten consumer goods dinilai akan mendapatkan katalis dari penurunan harga CPO dan gandum. Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menilai koreksi yang terjadi pada komoditas pangan seperti gandum dan CPO merupakan katalis positif bagi emiten consumer.

Sebab, kedua komoditas tersebut merupakan bahan baku utama bagi emiten seperti ICBP, MYOR, UNVR, GOOD, dan ROTI.

Pandhu menjelaskan, harga gandum sudah turun lebih dari 40% dari harga tertinggi tahun ini, meski masih lebih tinggi sekitar 24% dibanding rata-rata semester pertama tahun lalu.

Kemudian harga CPO sudah turun sekitar 48% dari level tertinggi, namun masih lebih tinggi sekitar 12% dibanding rata-rata tahun lalu.

Baca Juga: IHSG Ditutup Menguat, Rekomendasi Saham EXCL, INDF dan ABBA untuk Jumat (8/7)

Berangkat dari sana diperkirakan bahwa profit margin hingga kuartal kedua masih akan tertekan. "Namun cukup optimis bahwa mulai semester kedua nanti akan kembali meningkat sehingga bottom line akan terdongkrak," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (7/7).

Di sisi lain, data GDP yang meningkat menunjukan daya beli yang semakin pulih sehingga diharapkan dapat mendongkrak kinerja para emiten consumer goods.

Terlebih sebagian sudah mulai melakukan penyesuaian harga jual sejak awal tahun dan terbukti dari kinerja kuartal pertama rata-rata dapat meningkatkan pendapatan.

"Hal ini artinya produk dapat terserap dengan baik oleh masyarakat meskipun harga lebih mahal," katanya.

Dari sisi operasional, penyesuaian harga jual produk mie instan ICBP mencapai sekitar 13% sejak awal tahun terbukti efektif meningkatkan pendapatan meski gross profit margin turun dari sekitar 39% menjadi 33%.

UNVR juga telah menaikkan harga jual rata-rata sekitar 6% sejak awal tahun. Sedangkan MYOR baru merencakan akan menaikkan harga jual sekitar 8% mulai semester kedua ini.

"Upaya pass on kenaikan harga komoditas ke konsumen ini diharapkan dapat terserap seiring meningkatnya daya beli masyarakat," lanjutnya.

Sementara itu, pada masa seperti saat ini dengan inflasi tinggi dan pasar saham turun, sektor consumer umumnya diuntungkan. Sebab terjadi peralihan dana ke sektor defensif, salah satunya dari sektor komoditas yang sejak awal tahun menjadi top performer.

Menurutnya, koreksi pada harga komoditas menjadi pemicu para fund manajer melakukan rebalancing, selain itu memang secara fundamental akan memperbaiki profit margin dan kinerja keuangan para emiten.

Baca Juga: Wall Street Naik, Kekhawatiran terhadap Kenaikan Suku Bunga Surut

"Harga komoditas yang masih bergerak dalam tren menurun menjadi sentimen positif bagi sektor konsumen," paparnya.

Pandhu menilai, emiten yang menarik untuk diperhatikan adalah ICBP dan UNVR. Secara valuasi masih relatif lebih rendah dibanding rata-rata historis masing-masing.

Dijelaskan, saat ini ICBP diperdagangkan pada valuasi PER sekitar 14x, sedangkan rata-rata 5 tahun di sekitar 22x, PBV masih sekitar 3x dengan rata-rata 5 tahun sekitar 4.5x. UNVR pun masih rendah yang mana saat ini diperdagangkan pada PE sekitar 24x, dibanding rata-rata 5 tahun sekitar 40x.

Selain valuasi, outlook kinerja yang semakin membaik pada semester ini membuat kedua emiten menarik untuk diperhatikan.

"Untuk 12 bulan ke depan kami targetkan UNVR Rp Rp 5.500 sedangkan ICBP Rp 11.900, sehingga untuk saat ini cenderung buy on weakness. Masih menunggu kinerja laporan keuangan kuartal kedua yang kemungkinan masih berat karena harga komoditas rata-rata masih tinggi, sehingga rawan terjadi pullback setelah kenaikan yang cukup drastis belakangan ini," imbuhnya.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto

Terbaru