Saham-Saham Ini Bangkit dari Level Gocap pada 2021, Apa Penyebabnya?

Senin, 03 Januari 2022 | 04:09 WIB   Reporter: Akhmad Suryahadi
Saham-Saham Ini Bangkit dari Level Gocap pada 2021, Apa Penyebabnya?

ILUSTRASI. Pekerja membersihkan papan digital perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah saham bangkit dari zona gocap (Rp 50) sepanjang 2021. Catatan Kontan.co.id, setidaknya ada 15 saham yang beranjak dari level terendah saham tersebut.

Salah satunya yakni PT Agro Yasa Lestari Tbk (AYLS), yang pada awal tahun 2020 berada di zona gocap namun pada akhir tahun 2021 berada di level Rp 374.

Adapula saham PT Central Proteina Prima Tbk (CPRO) yang pada akhir tahun 2021 berada di level Rp 95, PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk (BIMA) di level Rp 246, PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (DGIK) di level Rp 197, dan PT Kota Satu Properti Tbk (SATU) yang berada di level Rp 104.

Adapula saham PT Karya Bersama Anugerah Tbk (KBAG) di level Rp 62, PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk (IATA) di level Rp 65, dan saham PT Limas Indonesia Makmur Tbk (LMAS) di level Rp 97 pada akhir tahun lalu.

Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani menilai, bangkitnya sejumlah saham dari zona gocap tidak terlepas dari aksi korporasi yang sempat dilakukan oleh beberapa perusahaan. Hal ini membangkitkan selera dari investor sehingga saham-saham tersebut bangkit dari level Rp 50.

Kontan.co.id mencatat, sejumlah saham gocap sempat melakukan aksi korporasi sepanjang tahun lalu. KBAG misalnya, membagikan dividen interim senilai Rp 2,50 miliar pada September 2021.  

Baca Juga: Sebelum Saham TOPS Hidup Lagi, Pengendalinya Jual Satu Miliar Saham

Pada Oktober 2021, DGIK mengumumkan telah terjadi perubahan saham pengendali dalam struktur pemegang saham, dari sebelumnya PT Lintas Kebayoran Kota menjadi PT Global Dinamika Kencana (GDK) sebagai pemegang saham pengendali baru.

GDK adalah pemilik perusahaan konstruksi PT Dirgantara Yudha Arta (Dirgantara) yang secara ukuran lebih besar dari DGIK. Masuknya GDK ke tubuh DGIK secara tidak langsung akan menjadi jalan masuknya secara penuh bisnis konstruksi GDK ke pasar modal.

Sementara pada Desember 2021, IATA mengumumkan rencana perubahan kegiatan usaha utama, salah satunya akan melakukan akuisisi terhadap PT Bhakti Coal Resources (BCR), yang merupakan perusahaan induk dari 9 perusahaan batubara yang berlokasi di Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Akuisisi ini dilakukan IATA dari PT MNC Investama Tbk (BHIT).

Hendriko melanjutkan, dalam dua tahun terakhir ini pasar saham juga sedang ramai sehingga meningkatkan risk appetite dari pelaku pasar. “Seperti bermunculan trader-trader baru di bursa yang ikut meramaikan pergerakan saham lapis ketiga,” terang Hendriko kepada Kontan.co.id, Sabtu (1/1).

Hendriko mengatakan, pelaku pasar bisa ikut trading ke saham-saham yang masih uptrend. Saham yang masih uptrend seperti BIMA, SATU, dan DGIK. Hanya saja, investor harus lebih waspada. Hal ini karena saham yang dekat dengan area Rp 50 berpotensi untuk 'tidur'  kembali jikalau balik ke level Rp 50. “Dan investor berpotensi tidak bisa menjual sahamnya,” pungkas Hendriko. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru