Simak Hal yang Perlu Dicermati Saat Memburu Dividen Saham

Senin, 16 Mei 2022 | 18:11 WIB   Reporter: Ika Puspitasari
Simak Hal yang Perlu Dicermati Saat Memburu Dividen Saham

ILUSTRASI. Momentum pembagian dividen biasanya akan menarik jika dividend yield yang ditawarkan tinggi.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten akan menebar dividen tahun buku 2021. Pertama ada PT Millennium Pharmacon International Tbk (SDPC), kemudian ada PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI), PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), dan PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM).

Selain itu, ada PT Pinago Utama Tbk (PNGO) yang berencana membagikan dividen tunai Rp 70 per saham dan PT Tigaraksa Satria Tbk (TGKA). Jika mengacu harga saham terakhir, dividend yield SDPC sebesar 0,77%, CCSI 1,01%, BSSR 9,09%, AKRA 2,88%, SMSM 0,97%, PNGO 4,67%, dan TGKA 3,73%.

Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandu Dewanto menuturkan, momentum pembagian dividen biasanya akan menarik jika dividend yield yang ditawarkan tinggi, misalnya di atas 3,5% karena sudah dapat mengalahkan inflasi hanya dari keuntungan dividen saja.

Baca Juga: IHSG diproyeksi berbalik menguat, simak rekomendasi saham HMSP, TOWR, dan INDF

Kemudian, pembagian dividen oleh emiten yang menawarkan prospek pertumbuhan di masa mendatang juga menarik. "Jika kedua hal ini dikombinasikan maka akan terbentuk momentum yang kuat karena baik trader jangka pendek maupun investor jangka panjang sama-sama memburu saham tersebut," tutur Pandu, Senin (16/5).

Namun, Pandu mengingatkan, agar terhindar dari dividen trap, maka perlu dilihat juga bagaimana likuiditas dan prospek emiten di masa mendatang, karena bisa saja dividen besar berasal suatu kejadian yang sulit berulang. Misalnya saja berasal dari laba pelepasan anak usaha yang produktif, sehingga perusahaan akan kehilangan salah satu sumber pendapatan utama.

Sementara itu, sambungnya,jika dividen yield yang ditawarkan rendah biasanya tidak terlalu berpengaruh pada pergerakan harga saham. Dari sekian banyak emiten yang berencana membagikan dividen pekan ini, Pandu melihat AKRA dan SMSM yang paling menarik.

Baca Juga: Tujuh Saham Ini Bakal Cum Date Dividen Pekan Depan, Siapa Saja?

Pasalnya, Pandu bilang kedua emiten tersebut terbilang solid dan sangat memperhatikan kepentingan pemegang saham. AKRA biasanya membagikan dividen dua kali tiap tahun. Bahkan SMSM membagi dividen empat kali dalam satu tahun. "Hal ini menunjukkan bahwa emiten memiliki kinerja yang konsisten dan tidak memiliki masalah likuiditas," tutur dia.

Berdasarkan laporan keuangan tahun lalu, AKRA membukukan pendapatan dan laba tertinggi sepanjang sejarah, membuktikan bahwa kinerja sudah sepenuhnya pulih dari pandemi dan masih dalam fase pertumbuhan yang kuat. Bahkan kinerja kuartal pertama juga masih membukukan peningkatan pendapatan hampir 100%, sedangkan laba meningkat sekitar 10%.

Menurut Pandu, kenaikan harga BBM yang diberlakukan oleh pemerintah membantu AKRA dalam menentukan harga jual, kemudian aktivitas ekonomi yang semakin bergairah juga mendorong volume distribusi bahan kimia dan penjualan lahan industri yang dimiliki perseroan. Pandu optimis AKRA dapat terus konsisten bertumbuh dan memberikan rekomendasi beli dengan target Rp 1.200 untuk 12 bulan ke depan.

Baca Juga: Memerah di Pekan lalu, IHSG Selasa (17/5) Besok Berpeluang Technical Rebound

Kemudian emiten lain yang menarik adalah SMSM, emiten ini terkenal sebagai salah satu emiten yang paling royal dalam hal dividen sejak dulu. SMSM memiliki kinerja yang konsisten dari tahun ke tahun, kinerja kuartal pertama tahun ini juga masih membukukan pertumbuhan, dimana pendapatan naik 21% dan laba meningkat sekitar 17%. Realisasi tersebut Lebih tinggi dari proyeksi manajemen yang ditargetkan bertumbuh 10%.

"Hal ini membuktikan solidnya kinerja emiten, didukung kontribusi ekspor yang mencapai 62% dari total pendapatan, berpotensi semakin diuntungkan dengan apresiasi dolar belakangan ini," papar dia.

Pandu merekomendasikan buy SMSM dengan target Rp 1.950 untuk 12 bulan ke depan yang mencerminkan rata-rata PE dan PBV 5 tahun terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati

Terbaru