KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan kembali menggelar pertemuan teknis dengan penyedia indeks global MSCI hari ini, Rabu sore (4/3/2026). Berikut hal-hal yang akan dibahas dipertemuan teknis ini.
Seperti diketahui, MSCI telah membekukan saham Indonesia dari perubahan indeks global ini hingga Mei 2026. MSCI berpotensi terus menghukum saham Indonesia jika regulator dan otoritas terkait tidak membenahi pasar modal Indonesia.
Pelaksana tugas (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengungkapkan bahwa diskusi hari ini akan melibatkan tim OJK, Self Regulatory Organization (SRO), serta MSCI. Pertemuan tersebut difokuskan untuk membahas proposal pembenahan pasar yang sebelumnya telah diajukan kepada penyedia indeks global tersebut.
Pertemuan ini berlangsung di tengah rencana kenaikan batas minimum saham beredar di publik atau free float dari 7,5% menjadi 15%. Selain itu, BEI juga telah mengumumkan daftar investor pemegang saham di atas 1%.
Baca Juga: Saham Energi Di BEI Melonjak Akibat Perang Iran, Pilih Beli / Jual?
Meski demikian, Jeffrey menegaskan bahwa kebijakan kenaikan free float bukan merupakan tuntutan utama dari MSCI. Menurutnya, langkah tersebut merupakan inisiatif domestik yang kemudian dimasukkan dalam proposal reformasi pasar modal. MSCI disebut memberikan respons positif terhadap arah pembenahan yang tengah dilakukan oleh otoritas pasar modal Indonesia.
Komunikasi antara BEI, OJK, dan MSCI dilakukan secara bertahap dan berjenjang, mulai dari pembahasan kebijakan strategis hingga aspek teknis implementasi. Langkah ini bertujuan menjaga kepercayaan investor asing sekaligus mendorong peningkatan aliran dana global ke pasar modal domestik.
Dalam implementasi kebijakan, BEI menekankan pendekatan kolaboratif. Otoritas bursa tidak hanya berfokus pada aspek kepatuhan regulasi, tetapi juga membuka ruang dialog dengan pelaku pasar untuk memastikan kebijakan berjalan seimbang dan mendukung pendalaman pasar.
“Sebagai regulator tentu kami tidak hanya mengeluarkan aturan kemudian diikuti dengan sanksi. Kami juga bisa bersama-sama dengan pelaku untuk mencari solusi bersama untuk melakukan pendalaman pasar yang lebih baik,” kata Jeffrey dalam acara CNBC Indonesia Market Outlook, Selasa (3/3/2026).
Baca Juga: Dividen BBRI: RUPST 10 April Siap Guyur Cuan Lebih Besar?
Penguatan permintaan domestik
Kenaikan batas free float berpotensi meningkatkan pasokan saham di pasar. Untuk mengantisipasi dampak tersebut, BEI menyiapkan strategi penguatan dari sisi permintaan (demand side).
Salah satu penopang utama berasal dari pertumbuhan investor ritel domestik. Sepanjang 2025, jumlah investor pasar modal tercatat bertambah 5,4 juta. Sementara sejak awal tahun hingga akhir Februari 2026, terdapat tambahan sekitar 2,5 juta investor baru.
Selain itu, dukungan kebijakan pemerintah yang memberikan ruang lebih luas bagi dana pensiun dan perusahaan asuransi untuk berinvestasi di saham diharapkan dapat memperluas basis permintaan institusional di pasar modal Indonesia.
BEI juga mendorong peningkatan eksposur emiten Indonesia di pasar global melalui penguatan fungsi hubungan investor (investor relations), perluasan program Public Expose Live, serta partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan promosi dan roadshow internasional.
Meski berbagai reformasi dan strategi telah disiapkan, Jeffrey menegaskan bahwa faktor fundamental emiten tetap menjadi kunci utama dalam menarik minat investor, baik domestik maupun asing.
“Pada saat yang bersamaan emiten-emiten kita juga harus melakukan PR-nya, meningkatkan fundamentalnya, meningkatkan kinerjanya,” tegasnya.
Dengan rangkaian reformasi dan komunikasi intensif bersama MSCI, BEI dan OJK berharap pasar modal Indonesia semakin kompetitif, likuid, serta mampu menarik aliran dana global secara berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News