Bursa Wall Street: Dow Jatuh 1,62%, Nasdaq Turun 1,8%, S&P 500 Drop 1,72%

Sabtu, 24 September 2022 | 08:47 WIB Sumber: Reuters
Bursa Wall Street: Dow Jatuh 1,62%, Nasdaq Turun 1,8%, S&P 500 Drop 1,72%

ILUSTRASI. Kekhawatiran pada prospek ekonomi Amerika Serikat (AS) dan pengaruhnya ke laba emiten membuat indeks bursa Wall Street memerah.

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks bursa saham Wall Street memerah semua pada Jumat (23/9). Prospek ekonomi Amerika Serikat (AS) yang suram pasca kenaikan agresif bunga The Fed membuat indeks bursa Wall Street melemah.

Pada penutupan perdagangan Jumat (23/9), indeks Dow Jones Industrial Average drop 1,62% ke 29.590,41. Lalu, indeks Nasdaq Composite jatuh 1,8% ke 10.867,93 dan indeks S&P 500 melemah 1,72% ke 3.693,23.

Mengutip Reuters, Dow Jones Industrial Average jatuh ke level terendah sejak November 2020. Jika nanti penutupan Dow Jones di bawah 29.439,72 akan mengonfirmasi pasar bearish.

Baca Juga: Wall Street: Dow Jones Dekati Level Terendah 2 Tahun di Tengah Kekhawatiran Resesi

Tekanan jual baru di pasar datang dalam sepekan ini akibat Federal Reserve AS menaikkan suku bunga 75% untuk ketiga kalinya berturut-turut dan berjanji untuk mempertahankannya sampai inflasi terkendali.

Tahun ini menjadi tahun yang penuh gejolak bagi Wall Street. Pergerakan indeks Wall Street terganggu kekhawatiran tentang invasi Rusia ke Ukraina, krisis energi di Eropa dan berakhirnya kebijakan uang mudah secara global.

Sementara, indeks S&P 500 telah merosot 23% tahun ini dan Nasdaq telah anjlok 31%.

Terakhir kali penurunan tajam ketiga indeks Wall Street itu terjadi pada tahun 2020 saat puncak aksi jual di masa pandemi.

Kekhawatiran yang meningkat akan penurunan ekonomi AS tahun depan dan dampaknya terhadap laba perusahaan telah mendorong para pialang untuk menurunkan target akhir tahun mereka untuk S&P 500.

"Dengan niat The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih tinggi dari yang diharapkan, pasar saat ini sedang mengalami krisis kepercayaan," kata Sam Stovall, kepala strategi investasi di CFRA Research seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Miliarder Dunia Ini Memperingatkan Situasi yang Terburuk Belum Datang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru