Emiten Cari Dana Lewat Rights Issue, Bagaimana Rekomendasi Terhadap Sahamnya?

Senin, 14 November 2022 | 07:52 WIB   Reporter: Akhmad Suryahadi
Emiten Cari Dana Lewat Rights Issue, Bagaimana Rekomendasi Terhadap Sahamnya?

ILUSTRASI. Pekan Lalu BEI Catatkan 10 Saham, 2 Obligasi, dan 1 Sukuk, Catat Rinciannya!. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gelaran pencarian modal dengan menerbitkan saham baru, baik dengan skema rights issue maupun private placement masih semarak.

Data Bursa Efek Indonesia, per 31 Oktober 2022, terdapat 42 perusahaan tercatat yang berada pada pipeline rights issue. Adapun perkiraan total dana yang akan diperoleh melalui rights issue sebesar Rp 38,6 triliun.

Kontan.co.id mencatat, sejumlah emiten saat ini berencana melakukan rights issue dan juga private placement. Misalkan, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), yang akan melakukan penerbitan saham baru sebanyak-banyaknya 1,07 miliar saham Seri B dengan nilai nominal Rp100 per lembar saham.

Tujuan dari rights issue ini adalah untuk mengakuisisi sebagian saham PT Semen Baturaja Tbk (SMBR).

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) juga akan melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Aksi korporasi ini seiring persetujuan pemerintah untuk melakukan Penambahan Modal Negara (PNM) Rp 2,48 triliun. BBTN menargetkan meraup dana segara Rp 4,13 triliun dari aksi korporasi tersebut.

Selain untuk ekspansi, ada pula aksi rights issue yang dilakukan untuk memenuhi modal inti perbankan.

PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) misalnya, akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 2,61 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 650 per saham. Sehingga, jumlah dana yang akan diterima oleh perbankan digital ini mencapai Rp 1,7 triliun.

Baca Juga: Simak Strategi Investasi Saham di Papan Akselerasi dengan Volatilitas Tinggi

“Mempertimbangkan kondisi market dan perekonomian beberapa bulan terakhir, kami memutuskan untuk mengubah target perolehan dana dari perhelatan rights issue kami kali ini, yang awalnya sebesar Rp 5 triliun menjadi Rp 1,7 triliun.

Angka ini sementara kami nilai sangat cukup untuk menjadi fuel bagi Bank Neo Commerce dalam mengeksekusi milestones yang sudah kami rencanakan ke depannya,” terang Direktur Utama Bank Neo Commerce, Tjandra Gunawan dalam siaran pers yang diterima Kontan.co.id, Jumat (11/11).

Vice President Infovesta Wawan Hendrayana menilai, aksi rights issue untuk keperluan ekspansi umumnya akan diterima lebih baik oleh investor. Ini karena hasil pendanaan rights issue akan menambah ekuitas dan aset perusahaan. Sementara itu, bila dana aksi korporasi ini digunakan untuk  membayar utang,

Wawan menilai rights issue tersebut memang kurang disukai pelaku pasar, karena tidak menambah permodalan.

Dari sisi valuasi, Wawan menilai saham BBTN merupakan bank plat merah paling murah. Dari sisi sektoral, Wawan menilai sektor perbankan akan diuntungkan dengan pertumbuhan ekonomi yang terjadi.

”Untuk industri semen sendiri saat ini tantangannya dari harga komoditas energi yang naik menekan margin operasionalnya,” kata Wawan kepada Kontan.co.id, Jumat (11/11).

Menurut analis BRI Danareksa Sekuritas Eka Savitri, dengan asumsi rights issue Rp 4,13 triliun yang berlangsung pada kuartal keempat 2022, ini akan memperbaiki struktur permodalan BBTN. Rasio kecukupan modal alias capital adequacy ratio (CAR) akan naik 210 basis points (bps) menjadi 17,6% pada Desember 2022 dari posisi CAR sebelum rights issue yakni sebesar 15,5%

Dari sisi kinerja, BBTN telah memperoleh 220 ribu rumah dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Hal ini menunjukkan posisi vital BBTN untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi backlog perumahan.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Yosua Zisokhi menilai, akuisisi 75,5% saham SMBR dinilai akan memberikan SMGR tambahan fasilitas pabrik semen di Sumatra bagian selatan.

Tambahan kapasitas produksi 3,85 juta ton per tahun dari SMBR akan mendongkrak total kapasitas terpasang SMGR menjadi 56,5 juta ton per tahun. Ini setara dengan 50,2% dari total kapasitas nasional.

Hal ini akan makin mengukuhkan SMGR sebagai pemimpin pasar (market leader) di industri semen nasional. Posisi SMGR makin mengungguli dari pesaing terdekatnya, yakni PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP).

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham dan Sektoral yang Menarik Dilirik di Tahun 2023

“Tingginya skala ekonomi ini dapat dimanfaatkan SMGR untuk menjaga pasokan batubara dengan harga domestic price obligation (DPO) serta mengontrol harga jual semen,” kata Yosua dalam riset, Kamis (27/11).

Hemat Yosua, valuasi SMGR tetap atraktif setelah akuisisi SMBR. Saat ini, saham SMBR diperdagangkan pada level annualized price earnings (PE) tahun 2022 sebesar 127,8 kali. Valuasi ini cukup premium jika dibandingkan dengan SMGR, yakni 20,9 kali atau rata-rata PE regional sebesar 18,1 kali.

Saat ini SMGR belum menentukan harga eksekusi. Jikapun akuisisi dilakukan pada PE 127,8 kali dengan valuasi SMBR yang cukup premium, maka proforma PE SMGR tahun 2022 mencapai 23,2 kali. Valuasi ini masih lebih rendah dari rata-rata 5 tahunnya.

“Meski demikian, kami masih berharap merger dan akuisisi (M&A) akan dilakukan pada level rata-rata peers regional, yang akan membuat valuasi SMGR semakin atraktif.," katanya.

Samuel Sekuritas merekomendasikan beli saham SMGR dengan target harga Rp 9.200, mencerminkan price to earning (PE) 2023 sebesar 21,8 kali.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hasbi Maulana

Terbaru