Harga Batubara Melonjak, Kinerja Adaro Energy (ADRO) Semester I 2022 Catat Rekor

Rabu, 31 Agustus 2022 | 07:05 WIB   Reporter: Akhmad Suryahadi
Harga Batubara Melonjak, Kinerja Adaro Energy (ADRO) Semester I 2022 Catat Rekor


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Adaro Energy Tbk (ADRO) melambung di semester I 2022. Lonjakan harga batubara memoles kinerja ADRO.

Di semester pertama 2022, ADRO membukukan laba bersih senilai US$ 1,21 miliar. Laba ADRO ini meroket 613% dari laba bersih pada periode sama tahun lalu yang hanya US$ 169.964

Melansir laporan keuangan di laman Bursa Efek Indonesia, Selasa (30/8), melejitnya laba bersih ADRO sejalan dengan pertumbuhan pendapatan. Konstituen Indeks Kompas100 ini membukukan pendapatan  senilai US$ 3,54 miliar. Jika dibandingkan dengan realisasi pendapatan di semester pertama 2021 sebesar US$ 1,56 miliar, pendapatan ADRO naik hingga 127% secara year-on-year (yoy()

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Energy Indonesia Garibaldi Thohir mengatakan, periode semester pertama 2022 adalah semester yang sangat kondusif untuk harga batubara. Hal ini mendorong pendapatan ADRO menyentuh rekor-rekor tertinggi dalam sejarah perusahaan.

Pria  yang akrab disapa Boy Thohir ini mengatakan, pendapatan, EBITDA dan laba bersih ADRO mencapai rekor tertinggi kinerja semester pertama sejak perusahaan pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) 14 tahun lalu.

Baca Juga: Analis Rekomendasikan Beli Saham Adaro Minerals (ADMR), Simak Ulasannya

Secara rinci, EBITDA operasional yang melebihi US$ 2,3 miliar dan laba inti yang mencapai US$ 1,4 miliar  mencerminkan peningkatan masing-masing 269% dan 338% secara year-on-year

Pendapatan usaha (ADRO) yang naik hingga 127% yoy, terutama didorong kenaikan pada harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) sebesar 117%. Cuaca buruk, kelangkaan pasokan, dan peristiwa geopolitis mendorong harga batubara ke levelnya yang tertinggi dalam sejarah, yang pada akhirnya menyokong kenaikan ASP milik ADRO

Di tengah curah hujan yang tinggi dan masalah pengadaan alat berat, ADRO mampu meningkatkan produksi sebesar 6% yoy menjadi 28,0 juta ton barubara dari sebelumnya 26,5 juta ton pada semester pertama 2021. Peningkatan produksi membantu kenaikan penjualan batubara sebesar 7% menjadi 27,5 juta ton.

Di sisi lain, ADRO mencatatkan penurunan pengupasan lapisan penutup alias overburden (OB) removal sebesar 11% menjadi 102,05 juta bank cubic meter (bcm) pada semester pertama 2022. Nisbah kupas juga turun 16% menjadi 3,64 kali dari sebelumnya 4,35 kali.

“Jika cuaca memungkinkan, ADRO memperkirakan nisbah kupas akan meningkat pada paruh kedua 2022, namun tidak mudah untuk memenuhi panduan nisbah kupas 4,1 kali pada 2022,” terang Boy Thohir dalam siaran pers, Selasa (30/8)

Saat ini, ADRO masih mempertahankan target produksi pada kisaran 58 juta ton sampai 60 juta ton batubara untuk 2022

Di sisi lain, sejumlah beban yang ditanggung ADRO mengalami kenaikan. Beban pokok pendapatan misalnya, naik 42% yoy menjadi US$ 1,51 miliar terutama karena kenaikan pembayaran royalti seiring kenaikan ASP. Naiknya beban pokok pendapatan juga akibat kenaikan biaya penambangan karena kenaikan harga bahan bakar minyak global.

Beban usaha pada enam bulan pertama 2022 juga naik 66% yoy menjadi US$ 143 juta, karena ADRO mencatat kenaikan 215% pada beban komisi penjualan. Kenaikan pada beban komisi penjualan berkontribusi terhadap 50% kenaikan beban usaha dan disebabkan oleh kenaikan harga batubara pada periode ini.

Royalti yang dibayarkan kepada pemerintah bersama dengan beban pajak penghasilan juga naik 315% menjadi US$ 1,207 miliar disebabkan oleh kenaikan pendapatan dari batubara berkat kenaikan ASP.

Sebagai catatan, Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara  (PKP2B) milik Adaro Indonesia akan jatuh tempo dan bertransisi menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) saat memasuki 2023.

Menurut ketentuan IUPK, royalti yang dibayarkan Adaro Indonesia akan meningkat secara progresif sampai sekitar 28%, dari tarif royalti 13,5% yang berlaku saat ini dan tarif pajak akan turun menjadi 22% dari 45%, selain dari perubahan yang akan terjadi pada bagi hasil, yurisdiksi hukum dan luas konsesi.

Adapun tambang Adaro Indonesia meliputi 82% produksi ADRO pada paruh pertama 2022.

Baca Juga: Laba Bersih Adaro Energy (ADRO) Melesat 613% Pada Semester I-2022

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru