CLOSE [X]

Harga BTC, ETH, DOGE, SHIB dll Turun Lagi Hari Ini (27/1), Inikah Musim Dingin Kripto

Kamis, 27 Januari 2022 | 10:32 WIB   Reporter: Adi Wikanto, Hikma Dirgantara
Harga BTC, ETH, DOGE, SHIB dll Turun Lagi Hari Ini (27/1), Inikah Musim Dingin Kripto

ILUSTRASI. Harga BTC, ETH, DOGE, SHIB dll Turun Lagi Hari Ini (27/1), Inikah Musim Dingin Kripto


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Apakah musim dingin uang kripto atau crypto winter sedang berlangsung? Pasalnya, harga uang kripto seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Binance Coin (BNB), hingga Dogecoin (DOGE) dan Shiba Inu (SHIB) dll terus melemah pada perdagangan hari ini, Kamis (27/1/2022).

Pada perdagangan Kamis (27/1/2022) pukul 10.23 WIB, Coinmarketcap mencatat pelemahan harga Bitcoin (BTC). Harga uang kripto Bitcoin / BTC, yang merupakan crypto currency dengan market cap terbesar, berada di level US$ 35.882,11. Dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin / BTC turun 2,85%. Dalam 7 hari perdagangan, harga Bitcoin / BTC melorot 14,46%.

Selain BTC, harga uang kripto lain yang berada di kelompok 5 besar market cap masih turun. Harga Ethereum / ETH (market cap terbesar kedua) di level US$ 2.377,75, turun 3,09% dalam 24 jam terakhir. Dalam 7 hari perdagangan, harga Ethereum / ETH anjlok 23,84%.

Harga Tether / USDT (market cap terbesar ketiga) di level US$ 1, naik 0,03% dalam 24 jam perdagangan. Dalam 7 hari perdagangan, harga Tether / USDT naik 0,04%.

Harga Binance Coin / BNB (market cap terbesar keempat) di level US$ 362,98 turun 4,29% dalam 24 jam perdagangan. Selama 7 hari perdagangan, harga Binance Coin / BNB anjlok 22,33%.

Baca Juga: Ada 5 Saham Blue Chip Baru, Simak Rekomendasinya

Harga USD Coin (market cap terbesar kelima) di level US$ 0,9996 turun 0,06% dari sehari sebelumnya. Selama 7 hari perdagangan, harga USD Coin turun 0,05%.

Sementara itu, harga Dogecoin / DOGE yang populer karena Elon Musk turun 2,62% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 0,1413. Dalam 7 hari perdagangan, harga Dogecoin merosot 13,61%.

Harga uang kripto populer lainnya, Shiba Inu (SHIB) melemah 3,32% dalam 24 jam terakhir menjadi 0,00002046. Dalam 7 hari perdagangan, harga Shiba Inu merosot 25,82%.

Jika merujuk Coinmarketcap, dalam 30 hari terakhir, harga seluruh aset kripto secara rata-rata sudah turun di atas 27%. Bitcoin, aset kripto dengan kapitalisasi terbesar, bahkan sempat menyentuh level terendahnya di US$ 35,779 per BTC.

Penurunan harga uang kripto seperti BTC, ETH, BNB, DOGE, SHIB dll ini mengingatkan kondisi crypto winter yang terjadi tahun 2018. Crypto winter atau musim dingin aset kripto adalah kondisi dimana harga uang kripto melemah dalam waktu cukup lama.

Co-founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar Christopher Tahir menyebut, ekosistem industri aset kripto saat ini berbeda dengan 2018 silam. Alhasil, jika terjadi crypto winter, periodenya akan singkat. Salah satu penyebabnya adalah keberadaan investor institusional dan negara yang sekarang ikut mengoleksi aset kripto, khususnya Bitcoin.

Menurutnya, kedua investor tersebut akan menjaga harga kripto tidak jatuh dalam karena berkaitan dengan kinerja portofolio yang dikelola mereka agar tetap perform. Hal inilah yang tidak ada di ekosistem industri aset kripto pada 2018 lalu. 

Oleh karena itu, ia melihat periode bearish ini berpotensi hanya terjadi secara jangka pendek saja. Lebih lanjut, menurutnya, ketika nanti harga mulai naik, kenaikannya sudah tidak akan setinggi pasca crypto winter selesai di 2020 dan cenderung bumpy dan lebih volatile

“Karena sekarang ada investor institusional seperti fund manager yang bisa menentukan naik-turun harga pasar, mereka pasti ingin beli di harga murah dan jual di harga tinggi kan,” imbuh Christopher.

Hal tersebutlah yang pada akhirnya membuat aset kripto tidak akan mengalami lonjakan harga yang pesat. Gabriel juga berpendapat serupa, karena secara sentimen, saat ini aset kripto tidak memiliki sentimen positif yang dapat mengangkat harganya secara signifikan.

Jika di tahun lalu, sentimen seperti masuknya investor institusional, lalu pengumuman peluncuran ETF Bitcoin, adopsi di berbagai negara bisa membuat harga naik tinggi. Sementara untuk tahun ini, ia menyangsikan hal tersebut bisa terjadi. Terlebih lagi, ETF Bitcoin Spot juga akhirnya ditolak oleh SEC sehingga semakin membuat tidak ada sentimen positif di pasar kripto.

“Jadi sebaiknya memang wait and see terlebih dahulu untuk mengamati perkembangan pasar. Apalagi, The Fed juga belum memulai agenda menaikkan suku bunga acuan yang bisa jadi katalis negatif untuk aset berisiko seperti kripto ini,” kata Christopher.

Baca Juga: Elon Musk Siap Makan Happy Meal McDonalds, Harga Dogecoin Melonjak 10%

Di tengah kondisi pasar yang lesu seperti ini, Christopher menyebut para pelaku pasar punya dua pilihan. Untuk jangka pendek, bagi yang sudah mengerti risiko dan paham apa yang dilakukan, bisa melakukan trading jangka pendek.

Ketika harga sudah berada di titik rendah dan berpotensi naik, ini disebut bisa jadi kesempatan mendapatkan keuntungan. Namun, ia merekomendasikan para trader untuk menunggu konfirmasi pembalikan trend karena saat ini trend sedang bearish.

Sedangkan untuk yang punya time horizon investasi jangka panjang, maka harga yang rendah saat ini bisa jadi kesempatan untuk mengakumulasi dengan melakukan dollar cost averaging.

“Saat pasar seperti ini, sebaiknya pilih aset seperti Bitcoin saja, walau potensi keuntungannya mungkin tidak tinggi sekali, tapi aset ini sudah terbukti tangguh hadapi tren koreksi dan volatilitas pasar,” imbuh Christopher.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto

Terbaru