Harga Saham Blue Chip Ini Merosot 25%, Tapi Ada Dividen Rp 21.000/Lot

Kamis, 11 Juni 2026 | 04:00 WIB
Harga Saham Blue Chip Ini Merosot 25%, Tapi Ada Dividen Rp 21.000/Lot

ILUSTRASI. Harga Saham Blue Chip Ini Merosot 25%, Tapi Ada Dividen Rp 21.000/Lot


Reporter: Dimas Andi  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dividen jumbo dari saham blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali tersaji pada pertengahan tahun 2026 ini. Investor bisa mengantongi dividen sekitar Rp 21.000 dari tiap lot saham blue chip ini.

Saham blue chip adalah saham lapis satu yang telah berpengalaman lama di bursa efek. Saham blue chip biasanya memiliki likuiditas tinggi dan nilai kapitalisasi pasar besar mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah.

Di BEI, saham blue chip biasanya menjadi anggota indeks mayor seperti LQ45. Anggota LQ45 yang baru saja mengumumkan pembayaran dividen adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) ANTM pada Rabu (10/6/2026) menyetujui rencana pembagian total dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp 5,05 triliun atau setara 70% dividend payout ratio (DPR).

Baca Juga: Harga Saham Rp 565, Emiten Ini Beri Dividen Rp 3.500/Lot, Hari Ini (10/8) Cum Date

Persentase DPR ini lebih rendah dibandingkan dengan DPR ANTM tahun sebelumnya yang mencapai 100%.

Dalam laporan Stockbit Sekuritas, jumlah tersebut mengindikasikan nominal dividen sekitar Rp 210 per saham. Dengan demikian, setiap lot saham ANTM akan mendapat dividen Rp 21.000 sebelum dipotong pajak.

Mengacu harga penutupan pasar pada Rabu (10/6) di level Rp 2.750 per saham, maka yield dividen ANTM ada di kisaran 7,6%. Sebulan terakhir, harga saham ANTM merosot 950 poin atau 25,68%.

ANTM sendiri membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 7,21 triliun pada 2025. Selain untuk dividen, sebanyak Rp 2,16 triliun dari laba bersih tersebut bakal ditetapkan sebagai saldo laba ditahan.

Sepanjang 2025, ANTM meraih pendapatan Rp84,64 triliun, naik 22% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp69,19 triliun. Sebanyak 96% pendapatan atau Rp81,10 triliun berasal dari pasar domestik.

Laba tahun berjalan melonjak 106% menjadi Rp7,92 triliun dari Rp3,85 triliun pada 2024. Sementara itu, EBITDA meningkat 56% menjadi Rp10,51 triliun dan laba usaha melesat 180% menjadi Rp8,40 triliun.

 

 

 

Tonton: Pertamax Naik Tajam Kini Rp16 250 per Liter

Sebelumnya, Direktur Utama ANTM Untung Budiharto mengatakan capaian tersebut memperkuat posisi ANTM sebagai perusahaan pertambangan mineral terintegrasi yang berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang.

“Kinerja 2025 memperkuat posisi ANTM sebagai perusahaan pertambangan mineral terintegrasi yang mampu memberikan kontribusi berkelanjutan bagi pemegang saham, pemangku kepentingan, dan pembangunan industri nasional,” ujar Untung dalam keterbukaan informasi.

Dari sisi neraca, total aset ANTM meningkat 18% menjadi Rp52,53 triliun, sedangkan ekuitas tumbuh 14% menjadi Rp36,60 triliun. Arus kas operasi juga naik 53% menjadi Rp5,62 triliun, sementara posisi kas dan setara kas melonjak 77% menjadi Rp8,43 triliun.

Segmen emas tetap menjadi penyumbang terbesar pendapatan perusahaan dengan kontribusi sekitar 79%. Pendapatan segmen ini naik 15% menjadi Rp66,47 triliun, didukung penjualan emas sebanyak 37.365 kilogram seiring tingginya permintaan domestik terhadap instrumen lindung nilai.

Segmen nikel menyumbang Rp14,85 triliun atau 18% dari total pendapatan, meningkat 56% dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi bijih nikel mencapai 16,11 juta wet metric ton (wmt), naik 62%, sedangkan penjualan melonjak 75% menjadi 14,58 juta wmt. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Sementara itu, segmen bauksit dan alumina membukukan pendapatan Rp2,92 triliun atau naik 62% secara tahunan. Produksi bauksit melonjak 112% menjadi 2,83 juta wmt dan penjualannya naik 157% menjadi 1,89 juta wmt, keduanya menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

ANTM juga mencatat produksi chemical grade alumina (CGA) sebesar 181.690 ton dan penjualan 179.828 ton, yang menjadi level tertinggi sejak fasilitas tersebut beroperasi. 


 

DPR Bahas Buyback Saham BUMN, Ada Apa dengan Pasar?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru