Harga Saham PTBA Beri Untung 63% Ytd, Saatnya Jual Atau Beli?

Selasa, 30 Agustus 2022 | 08:30 WIB   Reporter: Akhmad Suryahadi
Harga Saham PTBA Beri Untung 63% Ytd, Saatnya Jual Atau Beli?


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia segera memulai jam perdagangan saham edisi hari ini, Selasa 30 Agustus 2022. Salah satu rekomendasi saham pilihan untuk dicermati hari ini adalah saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Harga saham PTBA terus naik belakangan ini. Lalu, apakah saham PTBA layak untuk dibeli, jika belum punya? Atau bagi yang sudah memiliki, apakah kini saatnya menjual untung?

Harga saham PTBA pada perdagangan Senin 29 Agustus 2022 ditutup di level 4.360 stagnan dibandingkan sehari sebelumnya. Namun harga saham PTBA dalam 5 hari terakhir sudah naik 260 poin atau 6,34%.

Sejak awal tahun atau secara year to date (ytd), harga saham PTBA meningkat 1.690 poin atau 63,30%. Meski sudah naik tinggi, Analis Ciptadana Sekuritas Asia Thomas Radityo mempertahankan rekomendasi beli saham PTBA dengan target harga Rp 4.900. 

Alasannya, saham PTBA secara fundamental sangat bagus. PTBA sukses mencatatkan kinerja positif pada semester pertama tahun 2022.

“Kami  menyukai PTBA, karena memiliki umur cadangan tambang yang cukup, portofolio yang beragam, sistem penambangan yang terintegrasi, dan dividend yield yang menarik sebesar 11,8% dan 18,4% untuk masing-masing 2022 dan 2023,” tulis Thomas dalam riset, Senin (29/8).

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham Bukit Asam (PTBA) di Tengah Potensi Upside yang Terbatas

Emiten pertambangan batubara ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 6,2 triliun di periode enam bulan pertama 2022. Angka ini naik 246% dibanding periode yang sama di tahun lalu alias year-on-year (YoY) yang senilai Rp 1,8 triliun.

Menurut Thomas, laba bersih PTBA di enam bulan pertama 2022 memenuhi 57% estimasi Ciptadana Sekuritas dan 51% dari estimasi konsensus.

Pencapaian laba bersih didukung dengan kenaikan pendapatan PTBA, dimana PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp 18,4 triliun, meningkat 79% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Thomas menyebut, pertumbuhan pendapatan yang solid ini terutama didorong harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) batubara yang naik 58,0% secara YoY. Kenaikan ASP dibarengi dengan volume penjualan batubara yang meningkat 13,2%. Sehingga, pendapatan PTBA di semester pertama 2022 membentuk 41% dari estimasi tahun ini yang dipasang oleh Ciptadana Sekuritas.

Oleh karena itu, Thomas menilai hasil kinerja PTBA  di sepanjang enam bulan  pertama 2022 sejalan dengan ekspektasi Ciptadana Sekuritas

Baca Juga: IHSG pada Selasa (30/8) Diselimuti Banyak Sentimen, Intip Rekomendasi Saham Hari Ini

Thomas merevisi proyeksi laba bersih PTBA tahun ini dengan menimbang sejumlah faktor. Seiring adanya revisi proyeksi kenaikan harga patokan batubara, Ciptadana Sekuritas menaikkan asumsi ASP PTBA di tahun 2022 dan 2023 sebesar masing-masing 8,4% dan 7,5% menjadi Rp 1,3 juta dan Rp 1,1 juta per ton.

Hanya saja, Thomas memangkas proyeksi volume produksi dan penjualan  batubara Bukit Asam sebesar 10,7% dan 12,4% menjadi 32,8 juta ton dan 33,8 juta ton. Hal ini karena realisasi volume produksi dan penjualan batubara PTBA sepanjang semester pertama 2022 berada di bawah ekspektasi yang dipasang Ciptadana Sekuritas

Hal ini bermuara pada terpangkasnya proyeksi top-line PTBA. Ciptadana Sekuritas memangkas proyeksi pendapatan PTBA di 2022 dan 2023  sebesar masing-masing 3,2% dan 5,8% menjadi Rp 43,0 triliun dan Rp39,0 triliun.

Thomas juga menaikkan nisbah kupas sesuai panduan PTBA, yakni sebesar 14,5% dan 16,0% menjadi 6,3 kali dan 5,8 kali. Akan tetapi, Thomas menurunkan proyeksi dampak kenaikan harga bahan bakar ke dalam estimasi biaya tunai

Sementara itu, Thomas menerapkan perubahan royalty izin usaha pertambangan (IUP) baru-baru ini yang sebesar 13,5% yang bermuara pada peningkatan biaya tunai menjadi Rp 723 k/ton dan Rp 695 k/ton.

Baca Juga: Indeks Properti Turun 8,51% Sejak Awal Tahun, Saham Mana yang Masih Layak Dilirik?

Sehingga, terdapat peningkatan laba di tahun ini sebesar 13,5% menjadi Rp 12,2 triliun. Akan tetapi, pertumbuhan laba di tahun depan akan  sedikit melandai, yakni hanya sebesar 2,3% menjadi Rp 9,1 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto

Terbaru