Emiten

Harga saham Unilever Indonesia (UNVR) sudah di bawah Rp 5.000, apa kata analis?

Minggu, 20 Juni 2021 | 08:15 WIB   Reporter: Sugeng Adji Soenarso
Harga saham Unilever Indonesia (UNVR) sudah di bawah Rp 5.000, apa kata analis?

ILUSTRASI.

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) masih tertekan sejak awal tahun. Mengutip RTI, saham UNVR sudah anjlok 33,33% year to date (ytd) ke level Rp 4.900 per saham pada Jumat (19/6) kemarin.

Analis Samuel Sekuritas, Nasrullah Putra Sulaeman menyebutkan pergerakan harga saham UNVR menurun dikarenakan investor saat ini memang cenderung tidak menyukai saham-saham consumer.

Menurutnya, hal tersebut disebabkan pertumbuhan yang ditawarkan kurang menarik. "Selain itu, kenaikan harga soft commodities juga menjadi kekhawatiran untuk investor dikarenakan margin UNVR yang terancam terpangkas," ujarnya kepada kontan.co.id.

Nasrullah menilai, saham UNVR bisa bergerak naik apabila pemulihan ekonomi berada di atas ekspektasi. Sehingga membuat penjualan UNVR meningkat.

Baca Juga: Cermati saham-saham yang banyak dijual dan dikoleksi asing sepanjang pekan ini

Oleh sebab itu, saat ini Samuel Sekuritas menurunkan proyeksi laba bersih UNVR menjadi Rp 7,2 triliun atau lebih rendah 4,4% dari proyeksi awal sebesar Rp 7,5 triliun.

"Proyeksi diturunkan karena kami lebih konservatif terhadap kenaikan harga soft commodity seperti CPO, yang menjadi bahan baku utama dari segmen Home and Personal Care," jelasnya.

Dengan begitu, tahun ini laba bersih UNVR diproyeksikan tumbuh 1,1% dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar Rp 7,16 triliun.

 

 

Dari sisi pendapatan, pihaknya menilai UNVR juga masih dapat mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 3,9% menjadi Rp 44,6 triliun.

Pertumbuhan itu, menurutnya, dikarenakan dari segmen foods & refreshment masih berpotensi untuk bertumbuh dikarenakan pemulihan ekonomi khususnya pada sektor hotel restoran dan catering (horeca). "Kami merekomendasikan hold dengan target harga 5.900," imbuhnya.

Selanjutnya: Kinerja Unilever (UNVR) diprediksi mengalami perlambatan, ini pemicunya

 

Editor: Noverius Laoli
Terbaru