IPO

IPO Bukalapak kabarnya ovesubscribed empat kali, apa kata analis?

Kamis, 22 Juli 2021 | 06:35 WIB   Reporter: Dityasa H. Forddanta
IPO Bukalapak kabarnya ovesubscribed empat kali, apa kata analis?

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Meski sebagian pihak menilai valuasi Bukalapak mahal, penilaian ini tak lantas membuat initial public offering e-commerce tersebut sepi peminat. Bahkan, IPO Bukalapak dikabarkan mengalami kelebihan permintaan atawa oversubscribed.

Sumber KONTAN menyebut, harga pelaksanaan ditetapkan di level Rp 850 per saham. Ini batas kanan dari rentang harga IPO yang sebelumnya ditetapkan, paling rendah Rp 750 per saham.

Pada level harga pelaksanaan tersebut, IPO Bukalapak oversubscribed hingga empat kali. Dengan kata lain, Bukalapak meraup dana segar optimal, hingga Rp 21,9 triliun. 

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pihak terkait yang bersedia memberikan konfirmasi. Bursa Efek Indonesia (BEI) juga belum merinci terkait perkembangan penyesuaian teknis pencatatan saham di papan perdagangan.

Baca Juga: Incar valuasi jumbo, perusahaan teknologi ramai-ramai IPO

Dalam perhelatan IPO, Bukalapak melepas 25,76 miliar saham baru. Jumlah tersebut setara 25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. 

Sekitar 66% dana IPO akan digunakan sebagai modal kerja. Kemudian, sisanya akan dimanfaatkan untuk modal kerja sejumlah anak usaha Bukalapak.

Secara rinci, sekitar 15% diperuntukkan bagi PT Buka Mitra Indonesia dan sekitar 15% untuk PT Buka Usaha Indonesia. Sementara, masing-masing 1% akan dialokasikan untuk Buka Investasi Bersama, Buka Pengadaan Indonesia, Bukalapak Pte Ltd, dan Five Jack.

IPO Bukalapak sebelumnya membuat  investor terpecah setidaknya menjadi dua golongan. Pertama, golongan futuris yang rela membeli saham meski startup masih merugi lantaran mempertimbangkan prospek dan kaum tradisional yang enggan membeli saham mahal tapi masih merugi.

Baca Juga: Gelombang IPO Startup Global Belum Surut

Silva Halim, Managing Director Mandiri Sekuritas menjelaskan, startup terutama yang sudah berskala big tech sudah tidak lagi bisa menggunakan valuasi konvensional.

Editor: Noverius Laoli
Terbaru