Kenaikan Harga Komoditas Membayangi Kinerja Emiten Barang Konsumsi

Minggu, 22 Mei 2022 | 19:39 WIB   Reporter: Akhmad Suryahadi
Kenaikan Harga Komoditas Membayangi Kinerja Emiten Barang Konsumsi

ILUSTRASI. Kenaikan harga sejumlah komoditas lunak seperti CPO dinilai akan mengancam kinerja emiten barang konsumsi.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga sejumlah komoditas lunak seperti minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dinilai akan mengancam kinerja emiten barang konsumsi.

Analis Phillip Sekuritas Helen menilai, CPO merupakan salah satu bahan baku bagi industri consumer. Sehingga, pergerakan harga CPO, baik naik atau turun akan berdampak terhadap biaya perusahaan.

Senada, Analis Ciptadana Sekuritas Putu Chantika Putri juga menilai, kenaikan harga bahan baku (raw material) menjadi tantangan tersendiri bagi semua emiten consumer. Hal ini bisa tercermin dari adanya penurunan margin.

Namun, sejumlah emiten seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) disebut memiliki strategi dengan terus melakukan cost efficiency dan meningkatkan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) dalam menghadapi situasi ini.

“Sampai dengan semester pertama 2022, kami memprediksi harga komoditas memang masih akan tinggi dan akan menekan margin dari emiten consumer,” kata Chantika kepada Kontan.co.id, Minggu (22/5).

Baca Juga: Pemerintah Buka Keran Ekspor CPO dan Turunnya, Begini Dampaknya ke Emiten

Selain CPO, industri barang konsumsi juga dibayangi oleh kenaikan harga komoditas gandum. Terlebih, India akan melarang ekspor gandum untuk menjaga ketahanan pangan dalam negeri. Ditambah adanya konflik Rusia-Ukarina, larangan ekspor ini dinilai akan menyebabkan harga gandum menjadi lebih tinggi.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto menilai, biaya input yang lebih tinggi akan berdampak negatif terhadap margin perusahaan barang konsumsi.

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) menjadi emiten dalam cakupan analisis BRI Danareksa Sekuritas yang memiliki eksposur terhadap biaya gandum impor.

Dalam risetnya, Selasa (17/5), Natalia memperkirakan, gandum berkontribusi sebesar 16% terhadap beban pokok penjualan atau cost of good sales (COGS) Mayora, sedangkan kontribusi gandum terhadap COGS milik ICBP sekitar 15%. Berdasarkan analisis sensitivitas yang dilakukan Natalia, harga gandum yang lebih tinggi akan berdampak negatif terhadap laba MYOR.

Sementara itu, INDF juga akan menghadapi dampak negatif kenaikan harga gandum terhadap produk ICBP maupun dari tepung terigu Bogasari.

Harga gandum yang lebih tinggi akan berdampak negatif pada laba ICBP dan MYOR dan memberikan tekanan pada harga saham keduanya. BRI Danareksa Sekuritas menyarankan investor untuk mengambil posisi di saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).

Helen menilai, prospek ekiten sektor consumer ke depan akan didorong oleh beberapa faktor, seperti  besarnya jumlah konsumen serta pulihnya mobilitas dan daya beli  masyarakat. “Ini yang akan mendorong konsumsi,” terang Helen. Helen menilai, saham ICBP masih menarik. Ia rekomendasikan beli saham ICBP dengan target harga Rp 10.000.

Baca Juga: INDF hingga HMSP Masuk Daftar Top Picks Mirae Asset Sekuritas, Ini Daftar Lengkapnya

BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham UNVR dengan target harga Rp 5.500, saham ICBP dengan target harga Rp 10.100, beli saham INDF dengan target harga Rp 8.300, saham MYOR dengan target harga Rp 2.000, dan saham SIDO dengan target harga Rp 1.100 per saham.

BRI Danareksa Sekuritas juga merekomendasikan beli saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dengan target harga Rp 1.900 dan PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) dengan target harga Rp 1.200. Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas menyematkan rekomendasi jual (sell) saham PT Kino Indonesia Tbk (KINO) dengan target harga Rp 1.700 per saham.

Sementara Ciptadana Sekuritas merekomendasikan beli saham UNVR dengan target harga Rp 4.400. Chantika menilai, kinerja UNVR sepanjang kuartal pertama 2022 ini menunjukkan performa revenue yang baik. Hal ini  utamanya ditopang oleh kenaikan dari ASP.

Sementara itu kedua segmennya seperti home personal care (HPC) membukukan kenaikan pendapatan ditopang oleh penjualan dari beauty & personal care dari premium segment. Sementara, untuk food and refreshment segment (F&R) membukukan kenaikan pendapatan, ditopang oleh brand dari Royco, Bango dan, Buavita.

Sebagai gambaran, UNVR mencetak pendapatan bersih mencapai Rp 10,8 triliun di kuartal I 2022 atau 5,40% lebih tinggi dibandingkan dengan capaian pada kuartal pertama 2021 sebesar Rp 10,28 triliun.

Kinerja tersebut membuat laba bersih Unilever naik 19,02% menjadi Rp 2,02 triliun pada kuartal pertama 2022 dari sebelumnya Rp 1,69 triliun pada periode sama tahun lalu.

Mengingat perbaikan kondisi makroekonomi, Chantika memprediksi UNVR akan mengalami pertumbuhan pendapatan sebesar 4,8% atau mencapai Rp 41,4 triliun di tahun  ini.

Baca Juga: Larangan Ekspor CPO dan Turunannya Dicabut, Berikut Efeknya Menurut Analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru