Laba Vale Indonesia (INCO) melesat di 2020 walau pendapatan turun, apa penyebabnya?

Minggu, 28 Februari 2021 | 14:50 WIB   Reporter: Akhmad Suryahadi
Laba Vale Indonesia (INCO) melesat di 2020 walau pendapatan turun, apa penyebabnya?

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan penjualan sebesar US$ 764,7 juta di tahun 2020, atau turun 2% dibandingkan penjualan tahun 2019 yang sebanyak US$ 782,0 juta.

Manejeman INCO menyebut, penurunan pendapatan ini disebabkan realisasi harga rata-rata yang lebih rendah. Harga realisasi rata-rata pengiriman nikel matte di tahun 2020 sebesar US$10.498 per ton, turun dari level tahun 2019 sebesar US$10.855 per ton.

Meski demikian, konstituen Indeks Kompas100 ini membukukan kenaikan laba bersih. Hingga akhir 2020, Vale Indonesia membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 82,82 juta, naik 44,28% dari laba bersih tahun sebelumnya yang hanya US$ 44,28 juta.

Baca Juga: Tahun 2020, Vale Indonesia (INCO) mencetak penjualan US$ 764,7 juta

Dalam laporannya, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan menilai, pendapatan INCO yang turun 2,2% secara tahunan, masing-masing mencerminkan 94,5% dari target yang dipasang Mirae Asset  dan 97,6% dari target konsensus. Selain itu, laba INCO melonjak 44,28% menjadi US$ 83 juta masing-masing mencapai 80,3% dari target setahun penuh Mirae Asset dan mewakili 80,6% konsensus.

Andy menilai, hasil kinerja keuangan sepanjang 2020 disebabkan penurunan beban pokok pendapatan atau cost of goods sold (COGS) dan beban operasional. Jika ditelah mendetail, biaya pokok INCO yang lebih rendah seiring biaya bahan bakar yang lebih rendah.

Sementara itu, penurunan biaya operasional setahun penuh salah satunya disebabkan biaya royalti yang lebih rendah.

Mengutip laporan keuangannya, beban pokok pendapatan INCO di tahun 2020 tercatat sebesar US$ 640,4 juta atau turun 4%  dari tahun sebelumnya US$ 664,3 juta . Manajemen menyebut, penyebab utama turunnya beban pokok pendapatan adalah harga bahan bakar dan batubara yang lebih rendah.

Mirae Asset saat ini sedang meninjau ulang asumsinya untuk INCO, namun target harga terakhir untuk INCO ditetapkan pada harga Rp 5.550 per saham.

“Kami melihat bahwa risiko penurunan kinerja jangka pendek terhadap INCO akan datang dari harga minyak yang lebih tinggi,” tulis Andy dalam riset, Jumat (26/2). Sebagai catatan, biaya bahan bakar INCO menyumbang sekitar 13,7% dari total biaya produksi setahun penuh 2020.

Sebagai gambaran, INCO memproduksi 72.237 metrik ton nikel dalam matte sepanjang 2020. Realisasi ini naik 2% dibandingkan capaian pada 2019 yakni 71.025 ton.

 

Selanjutnya: Kinerja Vale Indonesia (INCO) tahun ini ditentukan harga dan volume produksi nikel

 

Editor: Khomarul Hidayat
Terbaru