Meski AS Mungkin Resesi, Saham TLKM dan ICBP Tetap Seksi!

Kamis, 23 Juni 2022 | 09:45 WIB   Reporter: Sugeng Adji Soenarso
Meski AS Mungkin Resesi, Saham TLKM dan ICBP Tetap Seksi!

ILUSTRASI. edung Telkom Landmark Tower. Meski AS Mungkin Resesi, Saham TLKM dan ICBP Tetap Seksi! TRIBUNNEWS/HO


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah saham berpotensi berkinerja baik, meskipun AS mengalami resesi ekonomi.

Pandhu Dewanto, Analis Investindo Nusantara Sekuritas, mengatakan di tengah ancaman resesi, secara umum akan terjadi pergeseran portofolio saham ke saham-saham defensif.

Saham-saham defensif tersebut antara lain sektor konsumer dan sektor telekomunikasi.

“Dalam kondisi apapun, produk yang mereka hasilkan selalu dibutuhkan masyarakat sehingga pendapatan seharusnya lebih stabil,” kata Pandhu kepada Kontan.co.id, Rabu (22/6).

Baca Juga: Elon Musk Ungkap Penyebab Kerugian Miliaran Dolar yang Dialami Dua Pabrik Baru Tesla

Beberapa saham yang menurutnya menarik untuk dicermati adalah saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Pandhu menjelaskan, saham TLKM dinilai defensif karena secara konsisten membukukan pertumbuhan positif dengan profitabilitas yang cukup kuat.

ROE saham TLKM juga stabil di atas 15% (year on year). Tahun lalu bahkan saham TLKM membukukan laba bersih terbesar sepanjang sejarah.

“TLKM juga merupakan market leader di industri dengan skala usaha yang besar dan struktur permodalan yang sehat, yang menjadi keunggulan kompetitif bagi TLKM dibandingkan dengan provider telekomunikasi lainnya,” jelasnya.

Pergerakan harga saham TLKM saat ini sedang dalam masa koreksi, setelah mencatat rekor tertinggi dalam sejarah Rp 4.850 pada April lalu.

Harga saham TLKM terkoreksi sekitar 17% dari level tertingginya, sehingga sudah mulai menarik untuk disimak.

Dalam jangka panjang, Pandhu melihat harga saham TLKM masih bergerak naik dengan level support trendline di sekitar Rp. 3.800.

Saham TLKM saat ini diperdagangkan pada rasio PE sekitar 16,4 kali.

Rasio ini menarik karena relatif rendah dibandingkan 10 tahun terakhir yang bergerak pada kisaran 13,5-24 kali, dengan nilai median 18,5 kali.

“Artinya harga saat ini relatif murah, jadi kalau ada koreksi diharapkan tidak terlalu dalam,” ujarnya.

Editor: Hasbi Maulana

Terbaru