KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan melakukan rebalancing anggota indeks pada Februari 2026. Saham PT Petrosea Tbk (PTRO) digadang masuk indeks MSCI. Namun, harga saham PTRO cukup tinggi. Bagaimana peluang investasinya?
Analis menilai saham PTRO memiliki prospek menjanjikan, baik dari sisi kinerja harga saham maupun fundamental, pada 2025.
Sebagai informasi, harga saham PTRO anjlok 6,43% ke level Rp 11.275 per saham pada penutupan perdagangan Senin (12/1/2026). Namun, harga saham PTRO sempat reli kencang sepanjang pekan lalu. Bahkan, saham PTRO pernah menyentuh level tertingginya pada perdagangan intraday Kamis (8/1/2026) silam, yakni Rp 12.525 per saham.
Baca Juga: Saham AMRT: Analis Bongkar Target Harga Baru Alfamart Rp 2.500, Saat Ini Rp 1.955
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan bahwa kenaikan harga saham PTRO yang terjadi pada pekan lalu dipicu oleh peluang emiten tersebut untuk masuk ke indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) ketika rebalancing dilakukan pada Februari 2026. Terlebih lagi, PTRO punya daya tarik berupa porsi free float sebesar 30%.
"Potensi masuk MSCI menjadi sentimen positif bagi PTRO karena dapat meningkatkan minat investor institusi dan likuiditas saham," ujar dia, Senin (9/1).
Selain itu, pasar tampaknya juga mengapresiasi capaian kinerja fundamental PTRO di tengah transformasi bisnis yang gencar dilakukan emiten afiliasi Prajogo Pangestu tersebut.
Menurut Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, tahun 2026 dapat menjadi fase panen bagi PTRO lantaran pendapatan dari hasil akuisisi akan terkonsolidasi penuh di laporan keuangannya.
Baca Juga: BSDE, ARCI, INDY: Saham Pilihan Analis Saat IHSG Bullish Pekan Ini
Dalam berita sebelumnya, pada pertengahan Agustus 2025 lalu, PTRO melalui anak usahanya PT Petrosea Engineering Procurement Construction (Petrosea EPC) menggelontorkan Rp 399,90 miliar untuk mengakuisisi dua perusahaan dari Grup Hafar, yakni PT Hafar Daya Konstruksi dan PT Hafar Daya Samudera.
Sedangkan pada November 2025, PTRO melalui anak usahanya Petrosea Services Solutions Ltd., menyelesaikan pengambilalihan 60% saham Scan-Bilt Pte. Ltd. (SBPL) lewat penandatanganan perjanjian jual beli saham dengan pemegang saham SBPL, TCAL Engineering Pte. Ltd., senilai SGD 10,3 juta atau setara US$ 8,03 juta.
"Selain itu, sinergi sebagai kontraktor utama aset tambang induk usahanya, yaitu CUAN (PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk), akan menjamin pertumbuhan order book," kata dia, Senin (12/1/2026).
Tentu saja, PTRO masih menghadapi risiko atas akuisisi yang gencar dilakukannya pada 2025 lalu. Tantangan utama bagi PTRO adalah eksekusi integrasi aset pasca-akuisisi dan pengelolaan rasio utang supaya kondisi keuangan perusahaan tetap sehat.
Di samping itu, fluktuasi harga energi global juga perlu dicermati oleh PTRO karena akan berdampak langsung terhadap perolehan margin kontrak baru.
Lantas, Wafi merekomendasikan beli saham PTRO dengan target harga di level Rp 14.000 per saham.
Pada perdagangan Senin 12 Januari 2026, saham PTRO parkir di level 11.275, turun 775 poin atau 6,43% dibandingkan sehari sebelumnya.
Selanjutnya: BRMS Bidik Produksi Emas 80.000 Oz, Risiko Gagal Jika 3 Proyek Ini Mandek
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News