Saham Energi Potensi Meroket: Ini Daftar Pilihan Saham Terbaik Saat Harga Minyak Naik

Selasa, 10 Maret 2026 | 04:00 WIB
Saham Energi Potensi Meroket: Ini Daftar Pilihan Saham Terbaik Saat Harga Minyak Naik

ILUSTRASI. Karyawan melintas dekat papan digital Pergerakan Saham di BEI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Alief Andri  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia terus meroket akibat serbuan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Untuk investor saham, kenaikan harga minyak akan menguntungkan sejumlah emiten tertentu.

Harga minyak kembali menembus level US$100 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak 2022. 

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan lonjakan harga minyak sebenarnya menjadi sentimen positif bagi saham-saham yang memiliki eksposur langsung terhadap komoditas energi.

Namun pada perdagangan terbaru, dampaknya terhadap pasar saham domestik tidak sepenuhnya positif karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami tekanan akibat sentimen global risk-off.

“Kenaikan harga minyak memang menjadi sentimen kuat, tetapi investor global cenderung mengurangi risiko di emerging markets, termasuk Indonesia, di tengah meningkatnya konflik geopolitik,” kata Hendra kepada Kontan, Senin (9/3/2026).

Meski demikian, dari sisi sektoral, saham-saham energi dinilai relatif lebih defensif dibandingkan sektor lainnya.

Baca Juga: Ini 3 Emiten yang Dipegang Pemerintah Singapura di BEI: Investor Lokal Wajib Tahu

Menurut Hendra, emiten yang bergerak di sektor hulu migas maupun jasa penunjang migas cenderung mendapat sentimen positif ketika harga minyak meningkat.

Beberapa saham yang dinilai berpotensi mendapat perhatian investor antara lain PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), serta sejumlah emiten jasa migas seperti PT Elnusa Tbk (ELSA).

“Ketika harga komoditas energi melonjak, saham-saham energi biasanya menjadi salah satu sektor yang paling cepat mendapatkan perhatian investor karena dianggap sebagai hedging sector,” jelasnya.

Dari sisi investasi, Hendra menilai emiten produsen minyak dan gas menjadi kelompok yang paling diuntungkan dari kenaikan harga minyak.

Produsen seperti MEDC berpotensi menikmati peningkatan margin karena harga jual minyak yang lebih tinggi.

Selain itu, perusahaan jasa penunjang migas juga berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas eksplorasi dan produksi energi saat harga minyak berada di level tinggi.

Sebaliknya, perusahaan yang bergerak di distribusi atau perdagangan bahan bakar minyak (BBM) tidak selalu mendapatkan keuntungan signifikan karena kinerjanya lebih dipengaruhi oleh kebijakan harga domestik serta regulasi pemerintah.

“Dalam kondisi seperti sekarang, investor biasanya lebih fokus pada perusahaan yang memiliki eksposur langsung terhadap produksi energi atau aktivitas hulu migas,” tambahnya.

Tonton: Iran Minta Maaf ke Negara Tetangga saat Serangan dengan Israel Terus Berlanjut

Ke depan, pergerakan harga minyak masih akan sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz.

Dalam jangka pendek, Hendra menilai harga minyak berpotensi bertahan di atas US$100 per barel selama ketegangan geopolitik masih berlangsung dan pasokan global berisiko terganggu.

Namun untuk menembus hingga level US$150 per barel, diperlukan gangguan pasokan yang jauh lebih besar, misalnya penutupan jalur distribusi utama atau penurunan produksi signifikan dari negara produsen utama.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga membawa tantangan bagi perekonomian Indonesia. Sebagai negara net importer minyak, lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah serta menambah tekanan inflasi domestik.

Iran Lumpuhkan Radar Amerika di Timur Tengah! Pertahanan AS Dibuat Buta

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru