Saham Telkom Indonesia (TLKM) Diunggulkan, Ini Pemicunya

Senin, 14 Maret 2022 | 07:00 WIB   Reporter: Aris Nurjani
Saham Telkom Indonesia (TLKM) Diunggulkan, Ini Pemicunya


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) masih menjadi emiten paling unggul di sekuritas di sektor telekomunikasi. Kemampuan TLKM dalam mengembangkan teknologi dan menjaga kestabilan jaringan menjadi penyebab banyak dipilih.

Harga saham perusahaan telekomunikasi Indonesia naik rata-rata 40% pada tahun 2021. Secara kinerja year to date (ytd), saham emiten telekomunikasi,PT Indosat Tbk (ISAT) menguat +57% (termasuk DPS khusus), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) tercatat telah menguat +22%. Sementara emiten lainnya yakni PT XL Axiata Tbk. (EXCL) menguat +16%.

Head of Investment Reswara Gian Investa, Kiswoyo Adi Joe mengatakan, Telkomsel sebenarnya tidak melakukan perang tarif tetapi yang perang tarif sebenarnya XL dan Indosat.

Baca Juga: Begini Strategi Telkom Indonesia (TLKM) Tingkatkan Kualitas Jaringan

"Paling solid itu telkom karena grup telkom ada menara BTS di mana-mana, jaringan mereka lebih luas dan jumlah pelanggan mereka lebih banyak sehingga Telkomsel tidak ikut perang tarif," ujar Kiswoyo.

Kiswoyo menjelaskan posisi Telkomsel lebih stabil lantaran memiliki sekitar lebih dari 3 satelit sendiri dibandingkan XL tidak ada satelit, Indosat sisa 1 satelit.

 

 

"Satelit paling banyak Telkom Group, Pelanggan seluler paling banyak Telkom, jaringan paling luas juga Telkom dan di Jawa Sumatra Bali Madura itu jaringan Telkomsel sekitar 80%, dan sisanya 20% dimiliki yang lainnya," ucap Kiswoyo.

Baca Juga: Sepanjang Tahun Lalu, Mitratel (MTEL) Kantongi Laba Rp 1,38 Triliun

Kiswoyo menilai TLKM saat ini perusahaan top telekomunikasi nomor 1 dan terbesar dan sudah merambah ke digital komunikasi.

"Ketika ada 5G mereka langsung berusaha untuk upgrade jaringanya secara berkala artinya dia sedang berusaha untuk jadi yang terdepan dan meningkatkan teknologinya, artinya mereka tidak mau ketinggalan jangan sampai tertinggal," ujar Kiswoyo. 

Kiswoyo mengatakan jika mau mengalahkan Telkom harus mengalahkan cover jaringannya karena kalau nambah jumlah pelanggan tapi ARPU-nya turun percuma saja. 

Baca Juga: Ini Strategi Mitratel Menembus Target Kenaikan Pendapatan 10% Tahun 2022

"Jadi kalau jaringannya sama yaa ujung-ujungnya cuma pilih salah satu, contohnya Indosat sama XL merger yaa orang-orang pasti hanya akan pilih salah satu orang sama aja kok, malah terkadang terdapat penurunan kualitas karena menaranya juga ikut di merger ataupun dimatiin salah satu akhirnya banyak pelanggan yang kabur," ucap Kiswoyo.

Kiswoyo merekomendasikan TLKM untuk buy di angka Rp 5.000. Karena jaringannya paling luas, jumlah pelanggan paling banyak dan Average Revenue Per User (ARPU) juga tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli

Terbaru