Analis Peringatkan Emiten-Emiten Ini Masih Memiliki Risiko Besar

Rabu, 10 Agustus 2022 | 04:45 WIB   Reporter: Sugeng Adji Soenarso
Analis Peringatkan Emiten-Emiten Ini Masih Memiliki Risiko Besar

KONTAN.CO.ID -   JAKARTA. Beberapa emiten telah menyelesaikan restrukturisasi. Walaupun begitu, analis menilai masih membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk memulihkan kinerjanya.

Adapun beberapa emiten yang telah menyelesaikan restrukturisasi, antara lain PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL), PT Modernland Realty Tbk (MDLN), PT FKS Food Sejahtera Tbk (AISA), dan PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP).

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, butuh suplemen khusus dari perseroan dari sisi strategi untuk kembali meningkatkan kinerja.

"Sebab tidak mudah mengembalikan kepercayaan investor yang sudah runtuh, melainkan dengan pembuktian," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (8/8).

Baca Juga: Laba Bersih Indika Energy (INDY) Melejit di Semester I-2022, Ini Faktor Pendorongnya

Lanjutnya, apalagi beberapa saham tersebut kebanyakan punya track record default di surat utang maupun produk sekuritisasi KIK EBA. Menurutnya, hal ini akan memberatkan kepercayaan untuk pulih.

"Karena kepercayaan tidak diberikan tapi di lahirkan. Oleh sebab itu kami berharap bahwa setelah di restrukturisasi, kinerja perusahaan segera membaik, meskipun membutuhkan waktu," katanya.

 

 

Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana menambahkan, secara prospek tentu masih ada. Dirinya mencontohkan saham AISA yang menunjukan kenaikan harga.

Baca Juga: Sarana Menara Nusantara (TOWR) akan Akuisisi Fiber Optik Alita, Ini Prospek Sahamnya

Berdasarkan data RTI, harga saham AISA ditutup menguat 3,42% ke level Rp 151. Sementara sebulan terakhir, harga sahamnya naik 6,34%.

Walaupun begitu, Wawan menegaskan agar investor benar-benar memahami fundamental bisnis masing-masing perusahaan. "Sebab jika mengharapkan kembali seperti sebelum level restrukturisasi itu butuh waktu yang sangat panjang sehingga risikonya besar," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli

Terbaru