Apa Itu Buyback Saham yang Dilakukan BBCA? Ini Arti dan Tujuannya

Kamis, 29 Januari 2026 | 10:45 WIB
Apa Itu Buyback Saham yang Dilakukan BBCA? Ini Arti dan Tujuannya

ILUSTRASI. BCA Bersama Manulife Aset Manajemen Indonesia Hadirkan Reksa Dana MANUFIX Kelas A (Dok/Bank BCA)


Penulis: Bimo Kresnomurti  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Mengenal apa itu buyback saham yang dilakukan oleh BBCA. Di tengah gejolak pasar saham Indonesia yang sedang mengalami koreksi tajam pada akhir Januari 2026, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjadi sorotan investor.

Pada 28 Januari 2026, BBCA mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimal Rp5 triliun, termasuk biaya perantara dan biaya lain.

Pengumuman ini datang tepat setelah saham BBCA anjlok 6,33% ke level Rp7.025 per lembar pada perdagangan hari yang sama, seiring dengan penurunan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat terjun hingga 8% pada 28 Januari, memicu trading halt sementara oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) akibat panic selling.

Rencana buyback ini akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 12 Maret 2026 dan bertujuan menjaga stabilitas harga saham serta memperkuat kepercayaan investor di tengah ketidakpastian pasar.

Lalu, apa itu Buyback Saham yang dilakukan oleh emiten? Cek penjelasan selengkapnya.

Baca Juga: Resmi! Ini Strategi BEI Cegah Pasar Saham Indonesia Terpuruk Usai Putusan MSCI

Apa Itu Buyback Saham?

Melansir Investopedia, Buyback saham, atau pembelian kembali saham oleh perusahaan itu sendiri, adalah mekanisme di mana emiten menggunakan dana internal (atau pinjaman) untuk membeli kembali sebagian sahamnya yang beredar di pasar.

Saham yang dibeli kembali kemudian bisa disimpan sebagai treasury stock (tidak memiliki hak suara dan dividen), dibatalkan, atau digunakan untuk program insentif karyawan.

Dalam konteks regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI, buyback harus mendapat persetujuan pemegang saham melalui RUPS, dengan batas maksimal 20% dari modal ditempatkan dan disetor, serta tidak boleh mengganggu likuiditas perusahaan.

Tujuan utama buyback biasanya untuk:

  • Meningkatkan nilai intrinsik saham (karena jumlah saham beredar berkurang, sehingga EPS naik).  
  • Memberi sinyal bahwa manajemen percaya saham undervalued.  
  • Menstabilkan harga saham saat mengalami tekanan jual.  
  • Mengembalikan nilai kepada pemegang saham secara tidak langsung (alternatif dividen).

Program buyback BBCA bukan hal baru; perusahaan ini telah beberapa kali melaksanakan buyback sebelumnya, seperti pada 2025 dengan harga maksimal premium untuk menjaga stabilitas.

Buyback terbaru ini (Rp5 triliun) menunjukkan komitmen BCA untuk mendukung harga sahamnya di tengah volatilitas pasar.

Baca Juga: Usai Rontok Karena MSCI, Bursa Efek Diprediksi Hijau Hari Ini, Cek Saham Pilihan

Kaitan dengan Situasi IHSG Saat Ini

Pada 29 Januari 2026, IHSG dibuka turun signifikan ke level sekitar 8.027 (penurunan sekitar 293 poin dari penutupan sebelumnya), melanjutkan tren bearish yang dimulai sejak 28 Januari ketika indeks sempat jatuh 7-8% dan memicu trading halt.

Penurunan ini dipicu oleh faktor eksternal seperti pengetatan kebijakan global, koreksi pasar Asia, serta aksi panic selling investor domestik dan asing (terkait isu MSCI dan outflow dana).

Saham blue chip seperti BBCA, yang biasanya menjadi penyangga IHSG, ikut terdampak dengan penurunan tajam, sehingga buyback menjadi strategi defensif untuk memberikan support harga.

Baca Juga: Harga Saham Lippo Anjlok Usai Naik Tinggi: Waktu Tepat Beli atau Jual Sekarang?

Dengan buyback Rp5 triliun, BBCA berpotensi menyerap tekanan jual, mengurangi supply saham di pasar, dan meningkatkan kepercayaan investor.

Hal ini bisa menjadi katalis positif bagi BBCA sendiri dan membantu meredam volatilitas IHSG secara keseluruhan, terutama karena BBCA merupakan salah satu saham dengan bobot terbesar di indeks.

Bagi investor, pengumuman ini menjadi sinyal bahwa manajemen BCA melihat harga saat ini sebagai undervalued dan siap "membela" sahamnya di tengah koreksi pasar. Namun, efektivitas buyback tergantung pada eksekusi, volume perdagangan, dan sentimen pasar yang lebih luas.  

Tonton: Proyek Waste to Energy Danantara Dorong Harga Saham, Ini Daftar Jagoannya

Selanjutnya: Howard Buffett Siap Salurkan Warisan Rp 2.500 Triliun, Ini Fokusnya

Menarik Dibaca: Harga Emas Antam Kamis 29 Januari 2026 Naik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru