KONTAN.CO.ID - Simak profil emiten EMAS yang menjadi sorotan investor retail. Di tengah tren harga emas sentuh Rp 3 juta per gram, tentu investor mencari emiten yang menggeluti usaha pertambangan emas.
PT Merdeka Gold Resources Tbk (kode saham EMAS), anak usaha mayoritas PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), menjadi salah satu emiten pertambangan emas yang paling menarik perhatian di Bursa Efek Indonesia (BEI) pasca IPO pada September 2025.
Perusahaan ini fokus sepenuhnya pada pengembangan Proyek Tambang Emas Pani di Gorontalo, Sulawesi, yang diproyeksikan menjadi salah satu tambang emas primer terbesar di Indonesia dengan cadangan bijih sekitar 190 juta ton, mengandung ~4,8 juta ons emas.
Lalu, seperti apa profil dari saham EMAS? Cek penjelasan selengkapnya.
Baca Juga: Harga Emas Cetak Rekor: Peluang Cuan Saham Emiten Emas Masih Ada?
Profil Emiten EMAS
Melansir laman BEI, listing saham EMAS diawali pada 23 September 2025 (harga IPO Rp2.880 per saham) berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp4,66 triliun, sebagian besar digunakan untuk pelunasan utang kepada induk usaha MDKA dan mempercepat konstruksi proyek.
EMAS didirikan pada 2015 dengan nama awal PT Pani Bersama Jaya di Jakarta, kemudian berganti nama menjadi PT Merdeka Gold Resources Tbk pada Juni 2025 menjelang IPO.
Perusahaan berstatus sebagai holding company yang mengelola grup usaha di sektor pertambangan emas dan mineral pengikutnya, pengolahan bijih, serta kegiatan pendukung terintegrasi secara vertikal.
Kantor pusat berada di Treasury Tower, Lantai 67, District 8 SCBD Lot 28, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Baca Juga: Peluang Emas Batubara: Mana Saham Paling Menjanjikan Saat Ini?
EMAS mengoperasikan proyek melalui sejumlah anak perusahaan yang menangani penambangan, pengolahan, dan infrastruktur.
Proyek utama adalah Tambang Emas Pani, dengan metode heap leach awal (kapasitas 7,5 juta ton bijih/tahun) dan ekspansi carbon-in-leach (CIL) hingga total 19 juta ton bijih/tahun pada 2030. Produksi puncak ditargetkan mencapai 500.000 ons emas per tahun pada 2033, dengan umur tambang hingga 2041.
Sebelum produksi komersial, perusahaan masih dalam tahap konstruksi dan pengembangan (penambangan dimulai Oktober 2025, first gold Q1 2026).
Lini Usaha Utama
- Pertambangan Emas Primer: Fokus tunggal pada eksplorasi, penambangan, dan pengolahan bijih emas di Pani Gold Project, Gorontalo.
- Pengolahan Bijih: Menggunakan heap leach (untuk bijih oksida) dan CIL (untuk bijih sulfida), dengan ekspansi kapasitas bertahap.
- Kegiatan Pendukung: Infrastruktur tambang, pengelolaan limbah, rehabilitasi lingkungan, dan operasi terintegrasi vertikal (dari eksplorasi hingga penjualan emas).
Tidak ada diversifikasi ke mineral lain seperti tembaga atau nikel (berbeda dengan induk MDKA), sehingga EMAS murni pure gold.
Baca Juga: Inilah Saham Emiten EMAS yang Layak Dipantau Kala Harga Emas Dunia Rekor Tertinggi
Direksi dan Dewan Komisaris
Berdasarkan data terkini pasca-IPO dan perubahan terakhir (Desember 2025), susunan organ perusahaan EMAS adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris (Board of Commissioners):
- Santoso Kartono (Presiden Komisaris) yang ditunjuk pada Desember 2025 menggantikan Hardi Wijaya Liong yang mengundurkan diri.
- Heri Sunaryadi (Komisaris)
Dewan Direksi (Board of Directors):
- Boyke Poerbaya Abidin (Presiden Direktur)
- Albert Saputro (Direktur)
- David Thomas Fowler (Direktur)
- Adi Adriansyah Sjoekri (Direktur)
Struktur ini mencerminkan pengaruh kuat dari grup MDKA, dengan komisaris dan direksi yang memiliki pengalaman di sektor pertambangan dan keuangan.
Baca Juga: Saham Tambang Emas Ini akan Bayar Dividen Rp 500 M, Cek Jadwal Cum Date & Pembayaran
Kinerja Keuangan (Berdasarkan Data Tersedia hingga Q3/9M 2025)
Mengutip data laporan keuangan EMAS, perusahaan masih dalam tahap pre-produksi (belum ada pendapatan dari penjualan emas hingga akhir 2025), sehingga kinerja keuangan mencerminkan biaya pengembangan proyek:
Pendapatan: Pada 2023: Rp2,29 triliun; 2024: Rp2,87 triliun (naik 26% YoY, kemungkinan dari aktivitas pra-operasional atau pendapatan lain). Namun, pada periode pra-IPO, pendapatan utama minim karena belum produksi.
Laba/Rugi: Hingga Q1 2025: Rugi bersih US$9,21 juta (~Rp151 miliar). Akumulasi kerugian historis sekitar US$9,21 juta (pra-IPO).
Pada Q3 2025 (laporan diaudit tersedia di situs resmi), perusahaan masih fokus pada capex tinggi untuk konstruksi, sehingga rugi operasional wajar di tahap ini.
Dana IPO (Rp4,66 triliun) sebagian besar (87,7% atau ~Rp4,28 triliun) digunakan untuk lunasi utang ke MDKA, sehingga memperbaiki struktur keuangan. Rasio utang menurun signifikan pasca-IPO.
Tonton: Proyek Waste to Energy Hanya Selesaikan 13% Masalah Sampah Indonesia
Selanjutnya: Profil Francis Yeoh dan Perjalanan YTL Group Menjadi Raksasa Global
Menarik Dibaca: Darurat Virus Nipah di India, Waspadai Gejala & Bahaya Kematian yang Mengintai
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News