Profil Saham SOLA: Emiten Aspal & Konstruksi untuk Proyek Strategis Nasional

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:21 WIB
Profil Saham SOLA: Emiten Aspal & Konstruksi untuk Proyek Strategis Nasional

ILUSTRASI. PLTS PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA) (Dok/SOLA)


Penulis: Bimo Kresnomurti  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Mengenal profil emiten SOLA yang menjadi sorotan investor retail. Harga saham SOLA kini berada di kisaran Rp163,00 atau naik 28,35% dalam 5 hari terakhir.

Meski begitu perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN) ini mengalami penurunan pada sesi 1 Rabu (14/1/2026) dengan rentang 6-8%.

Kabar terbaru, perusahaan juga memperkuat komitmen manajemen dan karyawan terhadap kinerja serta pertumbuhan bisnis. Dengan 5 petinggi SOLA tercatat melakukan akumulasi saham baru dengan total mencapai 1,54 juta saham.

Pelaksanaan MESOP II ini mencerminkan kepercayaan internal manajemen terhadap prospek usaha perusahaan ke depan, sekaligus menjadi sinyal positif bagi pasar

Lalu, seperti apa profil mulai dari usaha hingga kinerja keuangan SOLA? Cek penjelasan selengkapnya.

Baca Juga: IDX Value30 Melaju 5,44%, Cek Daftar Saham Fundamental Kuat Paling Diburu Awal 2026

Profil SOLA

PT Xolare RCR Energy Tbk (kode saham: SOLA) merupakan perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2024. Perusahaan ini didirikan pada 2015 dengan nama PT RCR Energy Indonesia sebagai perusahaan penanaman modal asing (PMA).

Pada 2019, statusnya berubah menjadi penanaman modal dalam negeri (PMDN), sebelum akhirnya resmi menggunakan nama PT Xolare RCR Energy Tbk.

Berbasis di Jakarta, SOLA berperan sebagai perusahaan holding yang berfokus pada sektor infrastruktur, khususnya penyediaan bahan baku dan jasa konstruksi.

Hingga akhir 2025, kapitalisasi pasar SOLA berada pada kategori menengah untuk emiten baru, dengan pergerakan harga saham yang cukup fluktuatif di kisaran Rp50 hingga Rp206 sepanjang tahun. Pada awal 2026, harga saham tercatat berada di sekitar Rp160 per lembar.

Baca Juga: Naik Tinggi Hingga ARA, Cek Saham yang Masih Layak Investasi & yang Harus Dihindari

Perusahaan dikenal memiliki komitmen untuk tumbuh sejalan dengan kebutuhan pembangunan infrastruktur nasional. SOLA juga aktif menjalin kerja sama internasional, termasuk penandatanganan nota kesepahaman dengan perusahaan asal Afrika Selatan pada 2025 guna memperkuat rantai pasok dan efisiensi operasional.

SOLA memiliki visi menjadi pemimpin di industri pengolahan dan perdagangan aspal serta jasa konstruksi, dengan penekanan pada inovasi dan keberlanjutan.

Struktur kepemilikan saham mayoritas berada di tangan jajaran direksi dan komisaris. Direktur Utama Mochamad Bhadaiwi tercatat sebagai salah satu pemegang saham signifikan dengan kepemilikan sekitar 115 juta saham.

Manajemen juga kerap melakukan transaksi saham internal sebagai bentuk kepercayaan terhadap prospek jangka panjang perusahaan.

Baca Juga: Profil RMKE yang Naik 1.000% dalam 6 Bulan: Intip Daftar Usaha hingga Direksi

Bidang Usaha

SOLA menjalankan kegiatan usaha melalui dua segmen utama, yaitu Aspal dan Konstruksi.

Pada segmen Aspal, perusahaan bergerak di bidang perdagangan, distribusi, dan pengolahan aspal, termasuk produksi campuran aspal panas (hot mix) serta produk turunan lainnya. Produk ini digunakan untuk berbagai proyek infrastruktur seperti jalan raya, bandara, dan pembangunan strategis lainnya. Segmen ini menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan, didukung oleh rantai pasok dari pemasok domestik maupun internasional.

Sementara itu, pada segmen Konstruksi, SOLA menyediakan jasa konstruksi mekanikal, elektrikal, dan sipil. Layanan yang ditawarkan mencakup pemasangan instalasi listrik, sistem perpipaan, serta pembangunan struktur bangunan. Perusahaan juga mulai mengembangkan layanan terkait energi, termasuk proyek energi terbarukan, meskipun masih berada dalam tahap ekspansi.

Secara umum, kegiatan bisnis SOLA sangat terkait dengan program pembangunan infrastruktur pemerintah, seperti proyek jalan tol dan proyek strategis nasional. Perusahaan berfokus pada pasar domestik, namun tetap membuka peluang ekspansi ke tingkat regional.

Tantangan utama yang dihadapi SOLA meliputi volatilitas harga minyak mentah yang berdampak langsung pada biaya bahan baku aspal, serta persaingan ketat dengan perusahaan-perusahaan besar di sektor infrastruktur dan konstruksi.

Baca Juga: Saham AMRT: Analis Bongkar Target Harga Baru Alfamart Rp 2.500, Saat Ini Rp 1.955

Direksi dan Komisaris

Susunan pengurus SOLA hingga akhir 2025 terdiri dari jajaran profesional dengan pengalaman di sektor energi dan konstruksi.

Dewan Komisaris:

  • Winardi Sani – Presiden Komisaris
  • Achmad Alwi – Komisaris
  • Ramdani Eka Saputra – Komisaris Independen

Dewan Direksi:

  • Mochamad Bhadaiwi – Presiden Direktur / Direktur Utama
  • Elvis Subiantoro – Direktur
  • Imam Buchairi – Direktur, berfokus pada pengembangan bisnis
  • Hasnan Riswandi – Direktur, terlibat dalam pengelolaan operasional harian

Baca Juga: Bedah Profil Emiten KOCI: Saham Properti yang Harganya Melesat 80% Sebulan Terakhir

Kinerja Keuangan Q3 2025 (Periode 9 Bulan Berakhir 30 September 2025)

SOLA mencatat pertumbuhan positif pada kuartal III 2025, didorong oleh peningkatan permintaan infrastruktur dan efisiensi operasional.

Berikut ringkasan kunci dalam bentuk tabel (dalam Rupiah, kecuali disebutkan):

Komponen Keuangan 9M 2025 (Rp) 9M 2024 (Rp) Perubahan YoY (%)
Total Aset 274.352.852.415 184.518.911.448 +48,7%
Total Liabilitas 104.659.638.453 34.727.154.372 +201,3%
Ekuitas 169.693.213.962 149.791.757.076 +13,3%
Pendapatan Usaha 172.342.386.246 72.058.400.853 +139,2%

Demikian profil saham SOLA yang menjadi sorotan investor retail.

Tonton: Ekonomi Iran Hancur Lebur, 1 Riyal Iran Hanya Senilai Rp 0,015 atau 0 Dollar AS

 

 

Selanjutnya: Patrick Collison: Bangun Stripe, Jadi Miliarder Fintech Paling Berpengaruh di Dunia

Menarik Dibaca: Promo Member Day Marugame Udon Spesial 14 Januari, Fuji-san Mabo Udon Hanya Rp 50.000

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru