KONTAN.CO.ID - Intip profil emiten GIAA yang menjadi sorotan investor retail. Saham GIAA milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk kembali menjadi sorotan pasar setelah mengalami lonjakan signifikan hingga menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) pada perdagangan Kamis, 26 Maret 2026.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dari papan pemantauan khusus, yang membuat sahamnya diperdagangkan dengan mekanisme Full Call Auction (FCA).
Kini, saham GIAA tercatat bergerak dalam rentang 20-25% pada perdagangan Kamis (26/3).
Baca Juga: IHSG Hijau Usai Libur Panjang Lebaran, Cek Saham yang Layak DIbeli Hari Ini (26/3)
Pergerakan ini menarik perhatian investor karena terjadi di tengah proses pemulihan kinerja perusahaan pascarestrukturisasi dan meningkatnya aktivitas penerbangan menjelang periode Lebaran.
Fenomena tersebut pun memunculkan pertanyaan mengenai kondisi fundamental perusahaan, lini bisnis yang dijalankan, serta prospek keuangan Garuda Indonesia ke depan.
Lalu, seperti apa profil dari GIAA? Cek informasi menarik emiten penerbangan ini.
Baca Juga: Harga Saham Lapis Kedua Anjlok? Ini Cuan Tersembunyi yang Perlu Diketahui Investor!
Profil Emiten GIAA
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) merupakan maskapai penerbangan nasional milik negara yang menjadi salah satu BUMN strategis di sektor transportasi udara.
Perusahaan ini berdiri sejak tahun 1949 dan berkantor pusat di Jakarta.
Garuda Indonesia dikenal sebagai full-service airline yang melayani penerbangan domestik maupun internasional, serta menjadi bagian penting dalam konektivitas antarwilayah di Indonesia.
Baca Juga: Saham LAJU Sempat Melesat, Cek Profil Emiten Logistik hingga Kinerja Keuangan
Lini Usaha Garuda Indonesia
Secara umum, lini usaha GIAA terbagi menjadi beberapa segmen utama:
- Penerbangan Penumpang (Passenger Services): Menjadi bisnis inti perusahaan, melayani rute domestik dan internasional dengan layanan full-service.
- Penerbangan Berbiaya Rendah (LCC): Melalui anak usaha Citilink, Garuda menyasar segmen pasar low-cost carrier.
- Kargo Udara (Cargo Services): Melayani pengiriman barang domestik dan internasional, termasuk logistik dan e-commerce.
- Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO): Dijalankan oleh anak usaha GMF AeroAsia, menyediakan layanan perawatan pesawat.
- Layanan Penunjang Lainnya: Termasuk katering (Aerofood ACS), ground handling, dan layanan digital.
Diversifikasi ini menjadi salah satu strategi Garuda untuk meningkatkan pendapatan di tengah ketatnya industri penerbangan.
Baca Juga: Saham PART Meroket 100% Sebulan: Cek Profil dari Lini Bisnis hingga Kinerjanya
Susunan Direksi dan Komisaris
Direksi
| Nama | Posisi | Terafiliasi |
|---|---|---|
| Glenny H. Kairupan | Direktur Utama | Ya |
| Thomas Sugiarto Oentoro | Wakil Direktur Utama | Ya |
| Balagopal Kunduvara | Direktur | Ya |
| Reza Aulia Hakim | Direktur | Ya |
| Dani Haikal Iriawan | Direktur | Ya |
| Mukhtaris | Direktur | Ya |
| Eksitarino Irianto | Direktur | Ya |
| Neil Raymond Mills | Direktur | Ya |
Baca Juga: Saham DIVA Melonjak 30%: Cek Profil Emiten Teknologi UMKM Ini
Komisaris
| Nama | Posisi | Independen |
|---|---|---|
| Fajar Prasetyo | Komisaris Utama | Ya |
| Chairal Tanjung | Komisaris | Tidak |
| Frans Dicky Tamara | Komisaris | Tidak |
| Mawardi Yahya | Komisaris | Ya |
Kinerja Keuangan
Melansir laporan yang tercatat pada BEI, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) membukukan rugi bersih pada Quarter 3 2025 sebesar Rp 3,04 triliun. Kerugian meningkat bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024 yang mencetak kerugian sebesar Rp 1,99 triliun.
Dengan demikian, rugi bersih per saham setara dengan Rp 33,28 per lembar. Kinerja keuangan GIAA hingga kuartal III 2025 (9M25) menunjukkan pendapatan (revenue) mencapai Rp39.871,2 miliar.
Dari sisi profitabilitas, perusahaan mencatat laba kotor (gross profit) sebesar Rp20.133,2 miliar dan EBITDA sebesar Rp26.106,8 miliar, yang mencerminkan perbaikan kinerja operasional.
Namun demikian, pada level bottom line, perseroan masih membukukan rugi bersih (net loss) sebesar Rp3.044,7 miliar, menandakan proses pemulihan.
Tonton: Kecelakaan Lalu Lintas Rugikan Ekonomi Hingga Rp 3 Triliun Setiap Tahun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News