Saham GIAA Tercatat ARA: Cek Profil Emiten, Lini Usaha, hingga Kinerjanya

Kamis, 26 Maret 2026 | 12:30 WIB
Saham GIAA Tercatat ARA: Cek Profil Emiten, Lini Usaha, hingga Kinerjanya

ILUSTRASI. Pesawat Garuda Indonesia (KONTAN/Daniel Prabowo)


Sumber: Bursa Efek Indonesia (BEI  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Intip profil emiten GIAA yang menjadi sorotan investor retail. Saham GIAA milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk kembali menjadi sorotan pasar setelah mengalami lonjakan signifikan hingga menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) pada perdagangan Kamis, 26 Maret 2026.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dari papan pemantauan khusus, yang membuat sahamnya diperdagangkan dengan mekanisme Full Call Auction (FCA).

Kini, saham GIAA tercatat bergerak dalam rentang 20-25% pada perdagangan Kamis (26/3).

Baca Juga: IHSG Hijau Usai Libur Panjang Lebaran, Cek Saham yang Layak DIbeli Hari Ini (26/3)

Pergerakan ini menarik perhatian investor karena terjadi di tengah proses pemulihan kinerja perusahaan pascarestrukturisasi dan meningkatnya aktivitas penerbangan menjelang periode Lebaran.

Fenomena tersebut pun memunculkan pertanyaan mengenai kondisi fundamental perusahaan, lini bisnis yang dijalankan, serta prospek keuangan Garuda Indonesia ke depan.

Lalu, seperti apa profil dari GIAA? Cek informasi menarik emiten penerbangan ini.

Baca Juga: Harga Saham Lapis Kedua Anjlok? Ini Cuan Tersembunyi yang Perlu Diketahui Investor!

Profil Emiten GIAA

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) merupakan maskapai penerbangan nasional milik negara yang menjadi salah satu BUMN strategis di sektor transportasi udara.

Perusahaan ini berdiri sejak tahun 1949 dan berkantor pusat di Jakarta.

Garuda Indonesia dikenal sebagai full-service airline yang melayani penerbangan domestik maupun internasional, serta menjadi bagian penting dalam konektivitas antarwilayah di Indonesia.

Baca Juga: Saham LAJU Sempat Melesat, Cek Profil Emiten Logistik hingga Kinerja Keuangan

Lini Usaha Garuda Indonesia

Secara umum, lini usaha GIAA terbagi menjadi beberapa segmen utama:

  • Penerbangan Penumpang (Passenger Services): Menjadi bisnis inti perusahaan, melayani rute domestik dan internasional dengan layanan full-service.
  • Penerbangan Berbiaya Rendah (LCC): Melalui anak usaha Citilink, Garuda menyasar segmen pasar low-cost carrier.
  • Kargo Udara (Cargo Services): Melayani pengiriman barang domestik dan internasional, termasuk logistik dan e-commerce.
  • Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO): Dijalankan oleh anak usaha GMF AeroAsia, menyediakan layanan perawatan pesawat.
  • Layanan Penunjang Lainnya: Termasuk katering (Aerofood ACS), ground handling, dan layanan digital.

Diversifikasi ini menjadi salah satu strategi Garuda untuk meningkatkan pendapatan di tengah ketatnya industri penerbangan.

Baca Juga: Saham PART Meroket 100% Sebulan: Cek Profil dari Lini Bisnis hingga Kinerjanya

Susunan Direksi dan Komisaris

Direksi

Nama Posisi Terafiliasi
Glenny H. Kairupan Direktur Utama Ya
Thomas Sugiarto Oentoro Wakil Direktur Utama Ya
Balagopal Kunduvara Direktur Ya
Reza Aulia Hakim Direktur Ya
Dani Haikal Iriawan Direktur Ya
Mukhtaris Direktur Ya
Eksitarino Irianto Direktur Ya
Neil Raymond Mills Direktur Ya

Baca Juga: Saham DIVA Melonjak 30%: Cek Profil Emiten Teknologi UMKM Ini

Komisaris

Nama Posisi Independen
Fajar Prasetyo Komisaris Utama Ya
Chairal Tanjung Komisaris Tidak
Frans Dicky Tamara Komisaris Tidak
Mawardi Yahya Komisaris Ya

Kinerja Keuangan

Melansir laporan yang tercatat pada BEI, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) membukukan rugi bersih pada Quarter 3 2025 sebesar Rp 3,04 triliun. Kerugian meningkat bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024 yang mencetak kerugian sebesar Rp 1,99 triliun.

Dengan demikian, rugi bersih per saham setara dengan Rp 33,28 per lembar. Kinerja keuangan GIAA hingga kuartal III 2025 (9M25) menunjukkan pendapatan (revenue) mencapai Rp39.871,2 miliar.

Dari sisi profitabilitas, perusahaan mencatat laba kotor (gross profit) sebesar Rp20.133,2 miliar dan EBITDA sebesar Rp26.106,8 miliar, yang mencerminkan perbaikan kinerja operasional.

Namun demikian, pada level bottom line, perseroan masih membukukan rugi bersih (net loss) sebesar Rp3.044,7 miliar, menandakan proses pemulihan.

Tonton: Kecelakaan Lalu Lintas Rugikan Ekonomi Hingga Rp 3 Triliun Setiap Tahun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru