Wall Street Ditutup Mixed, Nasdaq dan S&P 500 Tertekan Saham Teknologi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:13 WIB
Wall Street Ditutup Mixed, Nasdaq dan S&P 500 Tertekan Saham Teknologi

ILUSTRASI. Wall Street - Bursa AS (REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters  | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu (24/6) waktu Amerika Serikat.

Indeks Nasdaq Composite dan S&P 500 berakhir di zona merah akibat tekanan pada saham-saham teknologi, sementara Dow Jones Industrial Average menguat ditopang kenaikan saham maskapai dan perusahaan perjalanan seiring turunnya harga minyak.

Mengutip Reuters, pada penutupan perdagangan, Dow Jones naik 182,06 poin atau 0,35% ke level 51.848,90. Sementara itu, S&P 500 turun 7,24 poin atau 0,10% menjadi 7.358,22, sedangkan Nasdaq Composite melemah 110,40 poin atau 0,43% ke 25.476,64.

Baca Juga: GGRM Akan Tebar Dividen Jumbo: Investor Raup Rp800 per Saham, Cek Profil Emiten Ini

Saham Teknologi Jadi Beban?

Tekanan pada sektor teknologi muncul di tengah kekhawatiran investor terhadap tingginya valuasi saham AI dan prospek belanja modal perusahaan teknologi yang terus meningkat.

Perhatian pasar juga tertuju pada laporan keuangan Micron Technology yang diumumkan setelah penutupan bursa. Saham Micron turun 0,3% pada perdagangan reguler.

Sementara itu, saham Cerebras Systems merosot 19,6% setelah memperkirakan margin laba tahunannya akan lebih rendah dibanding kuartal pertama. Saham perusahaan juga tertekan setelah OpenAI memperkenalkan chip inferensi buatannya sendiri, Jalapeño.

Reuters melaporkan, kekhawatiran terhadap besarnya belanja AI oleh perusahaan hyperscaler dan meningkatnya ekspektasi sikap hawkish Federal Reserve (The Fed) telah menghapus lebih dari US$1 triliun atau sekitar Rp17.980 triliun dari kapitalisasi pasar Nasdaq 100 sepanjang pekan ini.

Michael Monaghan, Partner sekaligus Portfolio Manager Founder ETFs, menilai fokus pasar mulai bergeser dari konflik geopolitik menuju besarnya investasi AI.

"Pembahasan mengenai Timur Tengah mulai mereda dan harga energi turun. Namun investor justru menghukum perusahaan yang mengeluarkan belanja besar untuk AI, sementara perusahaan penerima belanja tersebut tetap disukai," kata Monaghan.

Baca Juga: Pantauan Performa Saham Magnificent Seven: Masih Layak Dikoleksi?

Harga Minyak Turun Dorong Saham Maskapai

Penurunan terjadi setelah semakin banyak kapal tanker diperkirakan kembali melintasi Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump juga mengatakan Iran telah memberi tahu Washington bahwa tidak akan mengenakan biaya tambahan bagi kapal yang melintas.

Sentimen tersebut mendorong indeks saham maskapai S&P 500 melonjak 5,2%. Saham Expedia Group dan Booking Holdings juga ditutup menguat.

Secara sektoral, enam dari sebelas sektor utama S&P 500 berhasil menguat. Sektor industri memimpin kenaikan sebesar 1,2%, diikuti sektor consumer discretionary yang naik 0,8%.

Di luar itu, saham perusahaan perumahan ikut menguat. Hovnanian Enterprises melonjak 11,3%, PulteGroup naik 7,2%, dan Toll Brothers bertambah 6,7%.

Sebaliknya, saham Hertz anjlok 40,7% setelah perusahaan memperkirakan laba operasional kuartal II berada di kisaran bawah proyeksi dan mengumumkan rencana penawaran saham senilai US$100 juta, atau sekitar Rp1,8 triliun.

Baca Juga: China Bersiap Sambut Tren IPO Antariksa Usai Rekor SpaceX

Investor Menanti Data Inflasi AS

Setelah perdagangan Wall Street berakhir, perhatian investor kini beralih ke rilis Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index yang dijadwalkan terbit pada Kamis waktu AS.

Indikator inflasi pilihan The Fed tersebut diperkirakan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS pada sisa tahun ini.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini mulai meningkatkan taruhan bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga sebanyak dua kali hingga akhir tahun. 

Sebelumnya, pasar hanya memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Baca Juga: SK Hynix Akhirnya Pilih Nasdaq untuk IPO AS, Ternyata Ini Alasannya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru