Pasar Keuangan Asia Hari Ini, Selasa (23/6): Saham Turun, Dolar dan Minyak Menguat

Selasa, 23 Juni 2026 | 10:48 WIB
Pasar Keuangan Asia Hari Ini, Selasa (23/6): Saham Turun, Dolar dan Minyak Menguat

ILUSTRASI. Morgan Stanley Capital International, MSCI (SOPA Images/via REUTERS)


Sumber: Reuters  | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Selasa (23/6), sementara dolar Amerika Serikat (AS) menguat dan harga minyak dunia kembali naik.

Fokus utama pelaku pasar kini tertuju pada kemungkinan sikap yang lebih agresif dari Federal Reserve (The Fed) dalam menekan inflasi. Ekspektasi tersebut mendorong investor melakukan penyesuaian portofolio dan mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Mengutip Reuters, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,5%, sementara kontrak berjangka S&P 500 terkoreksi 0,2%. Di pasar energi, harga minyak Brent naik 0,2% menjadi US$ 78,03 per barel atau sekitar Rp 1,39 juta per barel.

Bagi investor, perkembangan ini penting karena menunjukkan bahwa pasar global mulai kembali memperhitungkan risiko kenaikan suku bunga AS yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Baca Juga: Wall Street Temukan Formula Baru untuk Menangani IPO Raksasa

Investor Mulai Kurangi Aset Berisiko

Data CME FedWatch menunjukkan pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 54% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya dua kali masing-masing 25 basis poin sebelum akhir tahun. Sepekan lalu, probabilitas tersebut masih berada di kisaran 15%.

Chris Weston, Head of Research Pepperstone di Melbourne, menilai pasar saat ini sedang mengalami perubahan arah investasi.

"Pasar saat ini jauh dari kata membosankan. Para pemimpin reli sebelumnya mulai kehilangan momentum dan investor beralih ke sektor yang lebih defensif, tidak terlalu bergantung pada AI, serta memiliki arus kas yang lebih dapat diprediksi," ujar Weston.

Wall Street Turut Melemah

Sentimen negatif di Asia mengikuti pelemahan Wall Street pada perdagangan sebelumnya.

Indeks S&P 500 turun 0,4%, sedangkan Nasdaq Composite merosot 1,3%. Tekanan terbesar berasal dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar seperti Alphabet dan SpaceX.

Penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa investor mulai mengurangi eksposur pada sektor yang sebelumnya memimpin penguatan pasar selama beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: SK Hynix Akhirnya Pilih Nasdaq untuk IPO AS, Ternyata Ini Alasannya

Bursa Jepang dan Korea Selatan Tertekan

Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,6%, meski data menunjukkan aktivitas manufaktur masih tumbuh solid pada Juni. Pesanan baru bahkan mencatat pertumbuhan tercepat dalam lebih dari empat tahun.

Sementara itu, saham Korea Selatan melemah sekitar 2%. Berbeda dengan mayoritas pasar Asia, indeks Taiwan justru naik 0,9% dan mencetak rekor tertinggi baru.

Pergerakan yang beragam tersebut menunjukkan investor masih selektif dalam merespons perubahan prospek ekonomi global.

Dolar AS Menguat, Yen Dekati Level Terlemah 40 Tahun

Di pasar valuta asing, indeks dolar AS bertahan di level 101,04 atau mendekati posisi tertinggi sejak Mei tahun lalu.

Yen Jepang diperdagangkan di level 161,55 per dolar AS atau sekitar Rp 110,62 per yen. Mata uang Jepang tersebut kembali mendekati level terlemah dalam hampir 40 tahun.

Kondisi ini mendorong otoritas Jepang meningkatkan kewaspadaan terhadap gejolak pasar mata uang. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama dilaporkan telah menggelar pertemuan daring dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent untuk membahas volatilitas nilai tukar.

Baca Juga: China Bersiap Sambut Tren IPO Antariksa Usai Rekor SpaceX

Harga Minyak Naik, Emas dan Bitcoin Melemah

Sebelumnya, harga minyak sempat turun lebih dari 3% setelah Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan dengan Iran menunjukkan kemajuan dan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz tetap terbuka.

Di sisi lain, harga emas turun 0,2% menjadi US$ 4.180,38 per ons atau sekitar Rp 74,71 juta per ons.

Aset kripto juga bergerak negatif. Bitcoin turun 0,8% ke level US$ 63.873,71 atau sekitar Rp 1,14 miliar, sedangkan Ether melemah 0,5% menjadi US$ 1.724,08 atau sekitar Rp 30,81 juta.

Selama pasar terus meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga AS, volatilitas di pasar saham, mata uang, dan komoditas diperkirakan akan tetap tinggi.

Baca Juga: Apa Risiko IPO SpaceX? Investor Veteran Jim Chanos Beri Peringatan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru