KONTAN.CO.ID - PT United Tractors Tbk (UNTR) mengumumkan pembagian dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp1,478 triliun atau Rp430 per saham. Keputusan tersebut ditetapkan melalui keputusan sirkuler direksi dan dewan komisaris pada 27 Oktober 2026, dengan jadwal pembayaran pada 23 November 2026.
Melansir laman BEI, hingga kuartal III-2026, United Tractors membukukan pendapatan bersih Rp90,33 triliun, turun sekitar 10,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perseroan juga mencatat penurunan laba bersih yang disesuaikan setelah mengecualikan pos-pos nonberulang (non-recurring items), seiring penurunan penjualan alat berat, batu bara, dan emas.
Di sisi lain, United Tractors memiliki portofolio bisnis yang mencakup distribusi alat berat, kontraktor pertambangan, pertambangan batu bara dan emas, industri konstruksi, serta pengembangan energi baru dan terbarukan. Diversifikasi tersebut menjadi bagian penting dari strategi perusahaan menghadapi perubahan kondisi industri pertambangan.
Lalu, seperti apa profil emiten ini? Cek lini bisnis hingga kinerja terbaru United Tractors.
Baca Juga: DMAS Tebar Dividen Interim Rp1,4 Triliun, Intip Profil Emiten Properti dan Kinerjanya
Profil Singkat United Tractors (UNTR)
United Tractors merupakan perusahaan yang bergerak di bidang distribusi alat berat dan solusi pertambangan. Perusahaan ini merupakan bagian dari Grup Astra dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham UNTR.
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, United Tractors mengoperasikan sejumlah anak perusahaan yang menangani berbagai segmen, mulai dari penjualan alat berat hingga jasa kontraktor pertambangan dan produksi komoditas mineral.
Informasi lini bisnis dan entitas usaha tersebut mengacu pada profil serta publikasi resmi United Tractors.
Baca Juga: Bagikan Dividen Interim Rp 300 Miliar, Intip Profil SIDO hingga Kinerja Terbaru
UNTR Bagikan Dividen Interim Rp1,478 Triliun
United Tractors menetapkan dividen interim untuk tahun buku 2026 sebesar Rp430 per saham. Total dividen yang disiapkan mencapai sekitar Rp1,478 triliun, sesuai keputusan direksi dan dewan komisaris pada 27 Oktober 2026.
Pembagian dividen interim merupakan pembayaran dividen sebelum penetapan dividen final untuk tahun buku yang bersangkutan. Dengan demikian, dividen interim ini tidak otomatis menjadi keseluruhan dividen UNTR untuk tahun buku 2026.
Berikut jadwal pembagian dividen interim UNTR.
| Keterangan | Tanggal |
|---|---|
| Pengumuman dividen | 28 Oktober 2026 |
| Cum dividen pasar reguler dan negosiasi | 5 November 2026 |
| Ex dividen pasar reguler dan negosiasi | 6 November 2026 |
| Cum dividen pasar tunai | 9 November 2026 |
| Ex dividen pasar tunai | 10 November 2026 |
| Recording date | 9 November 2026 |
| Pembayaran dividen | 23 November 2026 |
| Dividen per saham | Rp430 |
| Total dividen | Rp1,478 triliun |
Investor perlu memperhatikan tanggal cum dividen dan recording date untuk mengetahui apakah kepemilikannya memenuhi syarat menerima pembagian dividen. Pembelian saham setelah tanggal cum dividen pada pasar reguler dan negosiasi tidak memberikan hak atas dividen interim tersebut.
Dividen interim kali ini juga lebih rendah dibandingkan pembagian interim tahun sebelumnya, yakni Rp567 per saham pada 2025. Perbedaan tersebut perlu dilihat bersama perkembangan laba, arus kas, dan kebutuhan pendanaan perusahaan.
Informasi jadwal dividen diumumkan melalui keterbukaan informasi perseroan dan pemberitaan pasar modal pada 28 Oktober 2026.
Baca Juga: Teladan Prima Agro (TLDN) Bagi Dividen Interim Rp 258,93 Miliar, Cek Jadwalnya
Lini Bisnis United Tractors (UNTR)
United Tractors mengembangkan bisnis melalui sejumlah segmen yang saling berkaitan, mulai dari distribusi alat berat hingga kontraktor pertambangan dan produksi komoditas. Perusahaan juga mengembangkan usaha di sektor konstruksi serta energi baru dan terbarukan.
1. Mesin Konstruksi dan Distribusi Alat Berat
Bisnis mesin konstruksi merupakan salah satu kegiatan usaha utama United Tractors. Perseroan mendistribusikan alat berat untuk mendukung sektor pertambangan, konstruksi, perkebunan, kehutanan, dan transportasi.
United Tractors menjadi distributor alat berat Komatsu di Indonesia serta memasarkan sejumlah merek lain, antara lain Scania, UD Trucks, BOMAG, dan Tadano. Selain menjual unit alat berat, perusahaan menyediakan suku cadang, pemeliharaan, dan layanan purnajual.
Segmen ini juga menghadapi dampak penurunan permintaan alat berat, terutama dari sektor pertambangan batu bara. Hingga September 2026, penjualan alat berat Komatsu turun 17% menjadi 3.026 unit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski penjualan unit melemah, pendapatan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan meningkat 2% menjadi Rp8,5 triliun. Secara keseluruhan, pendapatan bersih segmen alat berat turun 19% menjadi Rp23,6 triliun.
Baca Juga: Laba GOTO Rp607,5 Miliar Semester I-2026, Intip Profil Emiten hingga Data Keuangan
2. Kontraktor Pertambangan
United Tractors menjalankan jasa kontraktor pertambangan melalui PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining).
Kedua perusahaan tersebut menyediakan layanan pertambangan bagi pemilik konsesi, termasuk pekerjaan pemindahan tanah, pengupasan lapisan penutup, dan produksi batu bara maupun mineral lainnya.
Hingga kuartal III-2026, pendapatan segmen kontraktor pertambangan mencapai Rp44,5 triliun, naik 11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan pendapatan ini terutama didorong oleh penguatan kurs dolar Amerika Serikat.
Namun, secara operasional, volume pekerjaan pemindahan tanah turun 7% menjadi 766 juta bank cubic meter (bcm). Produksi batu bara untuk klien juga turun 3% menjadi 106 juta ton.
Untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara, PAMA dan KPP Mining turut memperkuat ekspansi ke sektor mineral lain, termasuk emas dan nikel.
Baca Juga: Akuisisi oleh Korporasi China Jadi Sorotan, Intip Profil EKAD hingga Kinerja Terbaru
3. Pertambangan Batu Bara
Bisnis pertambangan batu bara United Tractors dijalankan melalui PT Tuah Turangga Agung atau Turangga Resources.
Perusahaan ini memiliki portofolio tambang batu bara termal dan metalurgi. Batu bara termal umumnya digunakan untuk pembangkit listrik dan kebutuhan energi, sedangkan batu bara metalurgi digunakan dalam proses produksi baja.
Hingga September 2026, volume penjualan batu bara Turangga Resources mencapai 7,1 juta ton, termasuk 2,1 juta ton batu bara metalurgi. Angka tersebut turun 23% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejalan dengan penurunan volume penjualan, pendapatan segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi turun 15% menjadi Rp15,9 triliun.
Penurunan ini berkaitan dengan kondisi industri batu bara dan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah.
Baca Juga: AUTO Tebar Dividen Interim Rp349 Miliar, Cek Profil Emiten hingga Kinerja Terkini
4. Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya
United Tractors juga memiliki bisnis pertambangan emas dan mineral lainnya. Kegiatan pertambangan emas dijalankan melalui PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe di Sumatra Utara, serta PT Sumbawa Jutaraya.
Selain emas, perseroan memiliki eksposur terhadap komoditas nikel melalui PT Stargate Pasific Resources. United Tractors juga mempunyai kepemilikan pada Nickel Industries Limited yang bergerak dalam pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi.
Hingga kuartal III-2026, pendapatan segmen pertambangan emas dan mineral lainnya turun 53% menjadi Rp4,9 triliun. Penurunan terutama disebabkan oleh penjualan emas yang merosot 70%.
Total penjualan setara emas dari PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya mencapai 54.000 ons hingga September 2026, dibandingkan 178.000 ons pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perseroan menjelaskan bahwa penjualan emas yang lebih rendah dari Tambang Emas Martabe dipengaruhi penghentian sementara operasional tambang tersebut. Operasi Martabe kemudian kembali berjalan pada periode pelaporan kuartal II-2026.
Sementara itu, PT Stargate Pasific Resources mencatat penjualan bijih nikel sebanyak 1,157 juta wet metric ton (wmt) hingga September 2026, terdiri atas 390.000 wmt saprolit dan 767.000 wmt limonit.
Baca Juga: United Tractors (UNTR) Bagikan Dividen Interim Rp 1,48 Triliun, Simak Jadwalnya
5. Industri Konstruksi
United Tractors mengembangkan bisnis konstruksi melalui PT Acset Indonusa Tbk (ACSET).
Acset menyediakan jasa konstruksi dan fondasi untuk berbagai proyek bangunan, sipil, serta maritim. Keberadaan segmen ini memperluas portofolio United Tractors di luar distribusi alat berat dan pertambangan.
Meski demikian, kontribusi bisnis konstruksi perlu dinilai berdasarkan laporan keuangan masing-masing periode. Kinerja segmen ini tidak dapat disimpulkan hanya dari perkembangan bisnis pertambangan.
6. Energi Baru dan Terbarukan
United Tractors juga mengembangkan bisnis energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai bagian dari strategi transisi usaha.
Salah satu investasi perusahaan di sektor ini adalah Supreme Energy Rantau Dedap (SERD), yang bergerak dalam pengembangan energi panas bumi. Namun, pada 2026, perseroan mencatat penurunan nilai investasi yang berkaitan dengan Supreme Geothermal Energy sebagai salah satu pos nonberulang.
Pengembangan energi baru dan terbarukan merupakan upaya diversifikasi bisnis jangka panjang. Meski demikian, investasi pada sektor ini juga memiliki risiko, termasuk kebutuhan modal, perkembangan proyek, dan prospek keekonomian.
Baca Juga: Segera Bagikan Dividen Interim Rp595 Miliar, Cek Profil AMRT dan Kinerja Terkini
Kinerja Keuangan UNTR hingga Kuartal III-2026
Merangkum data BEI, United Tractors membukukan pendapatan bersih sebesar Rp90,33 triliun selama Januari–September 2026. Angka tersebut turun 10,1% dibandingkan Rp100,47 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berikut ringkasan kinerja keuangan konsolidasian perseroan berdasarkan laporan per 30 September 2026.
| Indikator | Januari–September 2026 | Januari–September 2025 |
|---|---|---|
| Pendapatan bersih | Rp90,33 triliun | Rp100,47 triliun |
| Laba bruto | Rp17,89 triliun | Rp22,04 triliun |
| Laba bersih yang disesuaikan, tidak termasuk pos nonberulang | Rp7,9 triliun | Sekitar Rp11,4 triliun |
| Laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk | Rp4,47 triliun | Rp11,48 triliun |
| Laba per saham dasar dan dilusian | Rp1.273 | Rp3.160 |
Laba bersih yang disesuaikan sebesar Rp7,9 triliun berbeda dari laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp4,47 triliun.
Angka pertama mengecualikan pos-pos nonberulang, sedangkan angka kedua berasal dari laporan keuangan konsolidasian sesuai penyajian akuntansi. Keduanya tidak boleh dipertukarkan.
Tonton: KPK Geledah Bea Cukai Kudus, Kasus Cukai Rokok Diusut Lagi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News