Naik 96% Sebulan, Cek Profil Emiten TIRT yang Disuspensi Kembali oleh BEI

Senin, 02 Maret 2026 | 13:20 WIB
Naik 96% Sebulan, Cek Profil Emiten TIRT yang Disuspensi Kembali oleh BEI


Penulis: Bimo Kresnomurti  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Simak profil emiten TIRT yang kembali disuspensi BEI. Emiten ini sering menjadi sorotan karena sahamnya kerap mengalami suspensi (penghentian sementara perdagangan) oleh BEI.

Suspensi terbaru terjadi pada 2 Maret 2026 (mulai sesi I), setelah saham TIRT melonjak tajam sekitar 96 dalam sebulan, sebagai bentuk perlindungan investor dari volatilitas ekstrem dan "cooling down".

Sebelumnya, TIRT juga disuspensi beberapa kali, Januari 2026 (bersama VISI, IBOS, dll., karena lonjakan harga kumulatif signifikan) dan Desember 2025 (lonjakan hingga 141–164% dalam periode singkat).

Saat ini, saham TIRT berada di Papan Pemantauan Khusus BEI, mencerminkan status emiten dengan risiko tinggi, likuiditas rendah, dan fluktuasi harga ekstrem.

Baca Juga: Dividen BBRI: RUPST 10 April Siap Guyur Cuan Lebih Besar?

Lalu, seperti apa profil dari TIRT yang kini sentuh harga Rp1.000 per saham? Cek penjelasan selengkapnya.

Profil TIRT

PT Tirta Mahakam Resources Tbk (kode saham: TIRT) adalah perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak Desember 1999.

Perusahaan ini didirikan pada 22 April 1981 dan berkantor pusat di Gedung Prima Office Tower (The Bellezza), Lantai 20, Jl. Let. Jend. Soepeno No. 34, Jakarta Selatan.

Pabrik utamanya berada di Samarinda, Kalimantan Timur. TIRT dikenal sebagai emiten sektor barang baku (subindustri kayu dan perhutanan) yang mengalami transformasi bisnis signifikan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pengalihan fokus dari manufaktur kayu ke angkutan laut dalam negeri.

Baca Juga: Ada Potensi Risk Off Akibat Perang Iran-AS, Cek Saham yang Diprediksi Bakal Cuan

Lini Usaha (Bidang Usaha Utama)

Awalnya, TIRT bergerak di industri kayu lapis (plywood) dan produk kayu terkait produksi dan penjualan plywood, kayu mewah, lantai warna, serta produk turunan kayu lainnya. Pabrik di Samarinda memproduksi sejak 1983.

Namun, sejak sekitar 2025, perusahaan melakukan transformasi bisnis besar-besaran dengan mengalihkan fokus utama ke sektor angkutan laut dalam negeri (bidang usaha utama saat ini tercatat sebagai Angkutan Laut di profil IDX).

Investasi signifikan (sekitar Rp 200 miliar) dialokasikan untuk pengembangan armada kapal dan layanan pengangkutan barang laut domestik, sebagai strategi pemulihan kinerja di tengah tantangan industri kayu (seperti regulasi lingkungan dan penurunan permintaan).

Baca Juga: Siap-Siap, Harga Minyak & Emas Melambung Karena Perang AS - Iran

Direksi dan Dewan Komisaris

Informasi direksi dan komisaris dapat berubah; berikut susunan terbaru dari situs resmi perusahaan dan IDX (per akhir 2025/awal 2026):

Direktur

  • Tham Arvin Setyanto adalah Presiden Direktur
  • Pohan Wijaya Po adalah Direktur

Komisaris

  • Lim Gunardi Hariyanto adalah Presiden Komisaris
  • Hendra Surya adalah Komisaris

Perusahaan dikendalikan oleh pemegang saham utama (ownership structure termasuk investor institusi dan individu; ada kaitan dengan grup Harita atau Lim Haryanto di beberapa berita).

Baca Juga: Saham WMUU Gocap Jadi Rp 90: Cek Profil Emiten hingga Aksi Korporasi Terbaru

Kondisi Keuangan (Ringkasan Terbaru)

Berdasarkan laporan keuangan interim hingga Q3 2025 (30 September 2025) dan tren historis, dirangkum dari laman BEI.

Neraca (Posisi Keuangan Utama)

  • Aset Total: Rp 361,7 miliar (naik signifikan dari Rp 179,9 miliar per Des 2024).
  • Aset Lancar: Rp 202,4 miliar (naik tajam, terutama kas & bank Rp 202 miliar).
  • Liabilitas Total: Rp 1.070,5 miliar (naik dari Rp 855,5 miliar).Liabilitas Jangka Panjang: Rp 1.069 miliar (didominasi utang ke pemegang saham Rp 997 miliar).
  • Ekuitas: Negatif Rp 708,8 miliar (memburuk dari negatif Rp 675,7 miliar), menunjukkan akumulasi kerugian besar.

Laporan Laba Rugi (9 Bulan 2025)

  • Pendapatan Neto: Rp 33 juta (turun dari Rp 65 juta periode sama 2024).
  • Rugi Usaha: Rp 23,1 miliar.
  • Rugi Bersih Tahun Berjalan: Rp 33,1 miliar (meningkat dari rugi Rp 22,0 miliar periode sama 2024).
  • Rugi per Saham (EPS): Rp (32,73) (memburuk dari Rp (21,72)).

Demikian informasi mengenai profil emiten TIRT yang kembali disuspensi BEI.

Tonton: Impor Pertanian Rp75,6 T dari AS! Pemerintah: Bukan Pakai APBN

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru