Saham SMRA Bangkit Usai Tertekan, Intip Profil Emiten dan Kinerja Terbarunya

Rabu, 16 September 2026 | 09:47 WIB
Saham SMRA Bangkit Usai Tertekan, Intip Profil Emiten dan Kinerja Terbarunya

ILUSTRASI. Suasana di bundaran perumahan Summarecon Crown Gading (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Bimo Kresnomurti  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Intip profil emiten SMRA yang rontok pada perdagangan BEI pekan ini. Saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menjadi perhatian investor setelah Presiden Direktur Perseroan, Adrianto Pitojo Adhi, terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 14 September 2026.

Melansir laman KPK, Adrianto menjadi salah satu pihak yang diamankan dalam OTT yang berkaitan dengan dugaan korupsi pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) di Kabupaten Bogor.

KPK saat itu mengamankan 17 orang, termasuk sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Baca Juga: Saham SMRA Ambruk 13,3% Usai Bos Summarecon Terjaring OTT KPK

Kabar tersebut kemudian diikuti tekanan pada saham SMRA. Pada perdagangan Selasa, 15 September 2026, saham SMRA ditutup turun 13,25% menjadi Rp288 per saham.

Saham sempat dibuka pada level Rp328 dan bergerak di zona merah sepanjang perdagangan. Volume transaksi mencapai 186,74 juta saham dengan nilai Rp56,18 miliar.

Kini, data perdagangan sesi 1 Rabu (17/9) mencatat, SMRA dibuka dengan menguat 3,47% ke harga Rp298/saham.

Perkembangan hukum dan informasi resmi dari KPK maupun Perseroan masih menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor.

Lalu, seperti apa profil emiten ini? Cek informasi selengkapnya.

Baca Juga: Dividen Rp 2,95 T Bikin Harga Saham Ini Bangkit Usai Tren Melemah, Pilih Beli / Jual?

Profil PT Summarecon Agung Tbk

PT Summarecon Agung Tbk merupakan perusahaan properti yang telah beroperasi lebih dari 50 tahun. Perseroan berdiri pada 26 November 1975 dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 7 Mei 1990 dengan kode saham SMRA.

Berdasarkan presentasi perusahaan September 2026, Summarecon memiliki 16,51 miliar saham yang telah diterbitkan. Per 30 Juni 2026, pemegang saham terbesar adalah PT Semarop Agung dengan kepemilikan 36,01%, disusul Liliawati Rahardjo sebesar 5,83%.

Sisanya sebesar 58,16% dimiliki pemegang saham dengan kepemilikan di bawah 5%.

Baca Juga: Saham MSIN Naik 169% Berujung Suspensi, Intip Profil Emiten Industri Media Ini

Lini Bisnis SMRA

Summarecon menjalankan model bisnis terintegrasi dengan menggabungkan pengembangan kawasan properti dan bisnis yang menghasilkan pendapatan berulang.

Dalam presentasi September 2026, Perseroan membagi aktivitas bisnis ke dalam tiga kelompok utama, yakni Property Development, Investment Property, serta Leisure, Hospitality & Others.

1. Pengembangan Properti

Pengembangan properti menjadi bisnis utama Summarecon. Perseroan mengembangkan kawasan terpadu atau township yang menggabungkan perumahan dengan fasilitas komersial dan pendukung.

Produk yang dikembangkan mencakup rumah, apartemen, kavling tanah, ruko, serta properti komersial lainnya.

Hingga 30 Juni 2026, Summarecon memiliki sekitar 1.892 hektare lahan yang tersedia untuk dikembangkan, dengan 1.507 hektare merupakan bagian efektif milik Perseroan dan 385 hektare terkait kepemilikan minoritas.

Presentasi perusahaan menyebut model bisnis tersebut mengintegrasikan kawasan hunian dengan fasilitas komersial, rekreasi, pendidikan, dan fasilitas pendukung lainnya.

Baca Juga: Analis Sarankan Wait and See Saham SMRA, Ini Level Support dan Resistancenya

2. Investasi Properti

Summarecon juga mempunyai bisnis investasi properti yang menghasilkan pendapatan berulang, terutama melalui penyewaan pusat perbelanjaan dan properti ritel.

Per 30 Juni 2026, Perseroan mengoperasikan pusat perbelanjaan dan properti ritel dengan total net leaseable area (NLA) lebih dari 370.000 meter persegi.

Bisnis investasi properti menjadi salah satu sumber pendapatan berulang bagi SMRA karena pendapatan berasal dari aktivitas penyewaan dan pengelolaan properti.

3. Rekreasi dan Perhotelan

Lini bisnis lainnya adalah rekreasi dan perhotelan. Bisnis ini dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem township Summarecon sekaligus memberikan sumber pendapatan berulang.

Beberapa aset hotel yang tercantum dalam presentasi perusahaan antara lain Harris Hotel Kelapa Gading, POP! Hotel Kelapa Gading, Harris Hotel Bekasi, Harris Hotel & Convention Serpong, serta Movenpick Resort & Spa Bali.

Harris Hotel & Convention Serpong, misalnya, mulai beroperasi pada Maret 2026 dan terhubung langsung dengan Summarecon Mall Serpong. Hotel tersebut memiliki fasilitas ballroom, ruang pertemuan, restoran, kolam renang, pusat kebugaran, spa, dan fasilitas lainnya.

Selain perhotelan, Perseroan juga mempunyai bisnis pendidikan dan rekreasi, termasuk Pradita University, sekolah Al Azhar, Sekolah Sedaya Bintang, Klub Kelapa Gading, dan The Springs Club.

Baca Juga: Sama Dengan Indonesia, Intip Profil Negara Wilayah Afrika yang Merdeka 17 Agustus

Kinerja SMRA Semester I 2026

Di tengah tekanan pada harga saham, kinerja operasional terbaru SMRA menunjukkan pendapatan dan laba bersih mengalami penurunan pada semester I 2026.

Melansir data keuangan BEI, SMRA membukukan pendapatan Rp4,25 triliun pada semester I 2026, turun 7,2% dibandingkan Rp4,58 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih turun 34% menjadi Rp332,39 miliar, dari Rp503,51 miliar pada semester I 2025.

Dari sisi aset, total aset SMRA mencapai Rp41,30 triliun per 30 Juni 2026. Liabilitas tercatat Rp24,91 triliun, sedangkan ekuitas mencapai Rp16,39 triliun.

Kinerja 6M 2025 6M 2026 Perubahan
Pendapatan Rp4,58 triliun Rp4,25 triliun -7,2%
Laba bersih Rp503,51 miliar Rp332,39 miliar -34%
Aset Rp38,34 triliun* Rp41,30 triliun +7,7%
Liabilitas Rp22,34 triliun* Rp24,91 triliun +11,5%
Ekuitas Rp16,00 triliun* Rp16,39 triliun +2,4%

Demikian informasi mengenai profil emiten SMRA yang rontok pada perdagangan BEI.

Tonton: TPIA Gandeng BMRI, Bangun Ekosistem Bisnis Petrokimia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Video Terkait


Terbaru