Segera Right Issue dan Akuisisi TCP, Cek Profil Emiten MEJA dan Kinerja Terbarunya

Kamis, 27 Agustus 2026 | 11:21 WIB
Segera Right Issue dan Akuisisi TCP, Cek Profil Emiten MEJA dan Kinerja Terbarunya

ILUSTRASI. PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) (Dok/MEJA)


Penulis: Bimo Adi Kresnomurti  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Simak profil emiten MEJA yang segera right issue dan akuisisi TCP. PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) tengah menyiapkan aksi korporasi besar yang berpotensi mengubah arah bisnis perseroan.

Melansir laman resminya, emiten yang selama ini bergerak di bidang furnitur, desain interior, dan konstruksi interior tersebut berencana melakukan ekspansi ke sektor energi melalui akuisisi PT Trimitra Coal Perkasa (TCP).

Rencana tersebut akan dilakukan bersamaan dengan penerbitan saham baru melalui Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue. MEJA menargetkan akuisisi 45% saham TCP dengan nilai transaksi sekitar Rp1,6 triliun.

Sementara itu, harga saham MEJA alami pergerakan fluktuatif dalam sebulan terakhir. Catatan sepekan ini, saham telah turun 8,59%, sementara itu hitungan 1 bulan telah naik 19,39% ke Rp117/saham (data Kamis, 27 Agustus 2026).

Baca Juga: COCO Akuisisi Momogi: Cek Profil Emiten hingga Kinerja Keuangan Terbaru

MEJA Akan Masuk Bisnis Batu Bara

Transformasi terbesar MEJA pada 2026 datang dari rencana masuk ke sektor pertambangan batu bara. Perseroan telah menandatangani kesepakatan bersyarat untuk mengakuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa. Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp1,6 triliun dan dilakukan secara bertahap.

Menariknya, kepemilikan 45% tersebut dirancang untuk memberikan posisi sebagai pemegang saham pengendali (PSP) di TCP.

Dengan transaksi ini, MEJA tidak lagi hanya mengandalkan bisnis interior dan furnitur. Perseroan berupaya membangun sumber pertumbuhan baru dari sektor sumber daya alam, khususnya batu bara.

Baca Juga: Dividen JSMR Segera Cair Rp1,1 Triliun, Cek Profil Emiten Infrastruktur Ini

Akuisisi Dilakukan dengan Skema Share Swap

Salah satu hal penting dalam rencana tersebut adalah mekanisme pembayaran akuisisi. MEJA menjelaskan kepada Bursa Efek Indonesia bahwa pembayaran transaksi senilai Rp1,6 triliun tersebut akan dilakukan melalui share swap, yang dikaitkan dengan pelaksanaan rights issue dalam beberapa tahap.

Dengan skema tersebut, aksi korporasi tidak semata-mata diposisikan sebagai rights issue untuk memperoleh dana tunai. Saham baru yang diterbitkan juga menjadi bagian dari mekanisme penyelesaian transaksi akuisisi TCP.

Pada Februari 2026, MEJA juga telah melakukan pembayaran uang muka untuk transaksi tersebut. Pembayaran Rp11,5 miliar dilakukan pada 12 Februari 2026, sementara sebelumnya pemegang saham pengendali MEJA telah menyetor Rp500 juta. Dengan demikian, total dana yang telah masuk kepada pihak TCP ketika itu mencapai Rp12 miliar.

Baca Juga: BUVA Right Issue Rp1,54 Triliun, Intip Profil Emiten Properti dan Real Estate Ini

Rencana Rights Issue MEJA

Untuk mendukung aksi akuisisi tersebut, MEJA menyiapkan PMHMETD atau rights issue. Pada April 2026, perseroan menyampaikan bahwa rights issue ditargetkan berlangsung pada kuartal III 2026. Aksi ini menjadi bagian dari pendanaan dan mekanisme pelaksanaan akuisisi TCP.

Per Juli 2026, perseroan masih mematangkan rencana tersebut. MEJA telah memperoleh persetujuan OJK untuk menyelenggarakan RUPSLB pada 21 Agustus 2026 yang salah satu agendanya berkaitan dengan aksi penambahan modal.

Artinya, investor perlu memperhatikan beberapa tahapan berikutnya karena struktur final rights issue, termasuk jumlah saham baru, rasio HMETD, harga pelaksanaan, serta jadwal pelaksanaannya, menjadi faktor penting dalam menghitung potensi dilusi pemegang saham lama.

Baca Juga: Masa Depan HOPE: Segera Akuisisi Tambang, Cek Profil Emiten hingga Kinerjanya

Lalu, seperti apa profil emiten ini? Cek informasi selengkapnya.

Profil PT Harta Djaya Karya Tbk

PT Harta Djaya Karya Tbk merupakan perusahaan yang dikenal dengan merek Interra dan menjalankan bisnis di bidang furnitur serta jasa interior. Perseroan memulai usaha dari satu workshop di Sawangan, Jawa Barat, pada 2012.

Kegiatan usaha MEJA mencakup tiga lini utama, yakni konsultasi desain, konstruksi interior, serta manufaktur furnitur. Produk dan jasanya antara lain ditujukan untuk kebutuhan gedung pemerintahan, perusahaan, serta fasilitas publik.

MEJA kemudian melantai di Bursa Efek Indonesia pada 12 Februari 2024. Saat IPO, perseroan menawarkan 480 juta saham kepada publik dari total saham tercatat sebanyak 1,9175 miliar saham.

Baca Juga: BIPP Segera Private Placement, Cek Profil Emiten Properti dan Kinerja Terbarunya

Transformasi Bisnis MEJA

Jika akuisisi berhasil diselesaikan, MEJA pada dasarnya akan memiliki dua kelompok bisnis utama:

Bisnis Kegiatan
Interior & Furnitur Konsultasi desain, konstruksi interior dan manufaktur furnitur
Energi/Batu Bara Ekspansi melalui kepemilikan 45% PT Trimitra Coal Perkasa

Perubahan tersebut membuat aksi korporasi MEJA berbeda dibandingkan ekspansi organik biasa. Perseroan bukan sekadar menambah kapasitas bisnis yang sudah ada, tetapi berupaya masuk ke sektor yang berbeda secara fundamental.

Susunan Manajemen

1. Direksi

Nama Posisi Terafiliasi
Richie Adrian Hartanto S Direktur Utama Ya
Habibah Jannah Direktur Ya
Venantius Agung Passionoraga Direktur Ya

2. Dewan Komisaris

Nama Posisi Independen
Noprian Fadli Komisaris Utama Tidak
Bimo Pradikto Komisaris Tidak
Mas Achmad Dairi Komisaris Ya

Baca Juga: Dividen Jumbo INDF Segera Cum Date, Cek Profil Emiten hingga Kinerja Terbarunya

Kinerja Keuangan Terbaru

MEJA sedang menjadi perhatian investor seiring rencana perseroan melakukan rights issue dan akuisisi PT Trimata Coal Perkasa.

Dari sisi fundamental, laporan keuangan terbaru yang tersedia menunjukkan bahwa kinerja MEJA adalah tahun 2025. Sementara untuk periode Juni 2026, perseroan pada Juli 2026 masih menyelesaikan proses audit laporan keuangan.

Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2025 dari BEI, MEJA membukukan pendapatan Rp28,1 miliar, turun sekitar 40,5% dibandingkan pendapatan 2024 sebesar Rp47,2 miliar.

Penurunan pendapatan tersebut diikuti tekanan yang jauh lebih besar pada laba. Laba bruto MEJA hanya sekitar Rp93,3 juta, dibandingkan Rp15,6 miliar pada 2024. Dengan demikian, margin bruto turun menjadi sekitar 0,3% dari sebelumnya sekitar 33%.

Tonton: Ekspor Sarang Burung Walet RI ke China Tembus Rp3 Triliun, China Serap 80%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru